Category Archives: Desain Struktur

Bolehkah Membengkokkan Tulangan Kolom?

Pertanyaannya, membengkokkan seperti apa yang dimaksud? Kalau ujung tulangan, tentu harus dibengkokkan bukan? Ditekuk minimal 90 derajat lebih tepatnya.

Tapi kali ini ada kasus yang suangat buanyak ditemui di lapangan. Ini beberapa di antaranya:

  1. Kolom yang bergeser sedikit, tapi tulangannya diteruskan dan dibengkokkan.
  2. Starter bar atau dowel (stek) yang salah pasang.

     

 

Dua kasus di atas adalah yang paling banyak ditemui di lapangan.

Padahal, sudah jelas-jelas tertulis di SNI maupun ACI. Saya screenshot saja biar tidak dituduh hoax.. 😀

 

Sementara kata ACI 318M-11:

Diperjelas lagi dengan Gambar dari ACI:

Kalo masih belum paham, waduh.. itu sudah keterlaluan. Mudah-mudahan kasus-kasus yang ada di lapangan hanya karena faktor “BELUM TAU” peraturannya.

Maka dari itu, di tulisan ini, saya sekaligus mau mengingatkan kalau “haram” hukumnya membengkokkan tulangan kolom lebih dari 1 banding 6.

Apa Tinjauan Teknisnya?

 

Nah… di sini bagian yang menarik. Kenapa harus 1:6? Kalau lebih dari 1:6 apa risikonya?

Angka 1:6 tentu diperoleh dari hasil eksperimen dan penelitian. Saya cuma bisa jawab pertanyaan kedua, apa akibatnya kalau bengkokannya terlalu miring?

TINJAUAN PERTAMA : ASPEK STRUT-TIE

Salah satu fungsi tulangan baja adalah menahan tegangan tarik. Kolom memang termasuk elemen yang dominan tekan, tapi kolom juga bisa menerima beban lentur. Dan ketika ada lentur, tentu ada bagian kolom yang berpotensi mengalami tarik. Tegangan Tarik itu dipikul oleh baja tulangan.

Nah… coba bayangkan apa yang terjadi jika kita menarik sebuah batang tulangan yang bengkok. Jawabannya, batang itu akan menjadi lurus kembali bukan?

 

Nah, sekarang bayangkan tulangan yang bengkok tadi, berada di dalam sebuah beton. Kemudian kedua ujungnya ditarik dengan gaya yang besar.

Akibat gaya tarik T, sesuai dengan persamaan kesetimbangan gaya, dan teori Strut-Tie, akan muncul gaya tekan T’ yang akan mendesak beton yang ada di sekitar lekukan tersebut. Kalau betonnya tidak cukup kuat ada potensi kerusakan di daerah tersebut akibat desakan dari tulangan.

Kalau kita aplikasikan ke Kasus nomor 1 di atas, maka ada daerah-daerah kritis yang berpotensi mengalami kerusakan.

Dan kalau bagian tersebut sudah rusak… tinggal menunggu waktu aja. 😀

Efek Strut-Tie ini akan menjadi minimal atau masih dalam batas aman jika kemiringannya tidak lebih dari 1:6. Itu menurut eksperimen tentu saja.

TINJAUAN KEDUA: ASPEK KUALITAS MATERIAL

Tulangan yang dibengkokkan terlalu ekstrim, akan menyebabkan pelelehan di bagian yang tertekuk itu. Kalau tulangan sudah meleleh artinya tegangannya sudah mencapai fy bukan? Perilakunya sudah ngga sama lagi dengan kondisi awal… istilah kerennya, tulangannya udah ngga perawan. 😀

Dan kalau sudah ngga perawan, semua pehitungan desain dari awal menjadi sia-sia, dan harus hitung ulang lagi.

Lha kok sia-sia? Bukannya memang waktu ngitung, tulangannya diasumsikan sudah leleh?

Betul! Waktu dihitung, tulangannya diasumsikan leleh, tapi regangannya juga regangan maksimumnya beton. Artinya sudah ada gaya dalam yang besar, dan tulangan mulai leleh. Tapi kalau dibengkokkan, belum ada gaya dalam yang besar, regangan masih sangat kecil, tulangan sudah leleh. Risikonya, waktu regangan sudah besar, tulangan bukan leleh lagi.. tapi bisa putus.. 😀

 

Trus apa SOLUSI-nya?

Solusi paling fair adalah: potong tulangan, dan bikin tulangan baru untuk kolom berikutnya.

Atau

 

 

 

KESIMPULANNYA

Apapun kondisinya, jangan membengkokkan tulangan kolom leih dari 1:6.

Dasar hukumnya juga sudah tertulis jelas di SNI maupun ACI

 

 

Kalau mau membengkokkan tulangan, minta ijin dulu sama pihak yang berwenang.

 

[]semoga bermanfaat[]

Apa Beda ASD dan LRFD?

Sering dengar pertanyaan ini? Sudah sering juga baca penjelasannya? Udah paham? Kalo sudah, alhamdulillah. Selesai. Ngga perlu kita lanjutkan lagi. Open-mouthed smile

Tapi kalo rekan-rekan terusin baca ini, mungkin belum begitu paham ya? Atau… sekedar penasaran aja, apa yang bakal kami tulis di sini? Open-mouthed smile 

Baiklah. Uraian di sini didasarkan sebatas pengalaman dan pengetahuan kami saja. Jadi, mohon maaf sebelumnya kalo masih belum sempurna jawabannya.

ASD vs ASD

Nah lho… di dalam code AISC (American Institue of Steel Construction), ternyata ada 2 macam ASD. Ada Allowable STRESS Design, dan ada Allowable STRENGTH Desain.

Continue reading

Balok Transfer dan Kolom Transfer

Ada diskusi menarik di halaman facebook DTS, tentang struktur sebuah bangunan sederhana yang posisi kolomnya agak “ngga biasa” seperti gambar di bawah

image

Tentu saja konstruksi seperti itu kelihatan nggak biasa bagi sebagian besar orang, baik awam bahkan orang-orang konstruksi itu sendiri. Padahal, konstruksi semacam itu sangat banyak dan sangat sering ditemui. Smile 

Cuman… memang untuk struktur bangunan rendah (3 lantai atau kurang), memang sangat jarang ditemui kasus seperti ini. Soalnya, anggapan yang beredar luas di mayarakat adalah yang namanya kolom itu harus lurus segaris dari bawah sampai atas! Wow Open-mouthed smile

Seandainya memang harus seperti itu, berbahagialah kita para perencana struktur karena ngga perlu susah-susah menghitung konstruksi yang aneh-aneh. Open-mouthed smile Open-mouthed smile

Emang Kolom Boleh Nggak Segaris?

Pertanyaan ini saya jawab dengan : “sangat boleh”

Continue reading

Sekilas Tentang Sloof / Tie Beam

Sloof kadang juga disebut dengan Tie Beam, atau Grade Beam. Semua wujudnya sama, tapi fungsi utamanya aja yang beda-beda.

Sloof adalah salah satu elemen yang penting di sebuah struktur bangunan gedung maupun non-gedung. Sloof adalah balok yang berada di tanah, baik itu di dalam tanah, atau muncul di permukaan tanah, yang jelas ngga melayang di atas tanah. Kalo udah melayang sudah bukan sloof namanya.

Jadi, syarat wujud sloof itu adalah:

  • berada di tanah (makanya kadang disebut juga Grade Beam (Grade = tanah yang sudah diratakan dan dipadatkan)
  • menghubungkan antara satu pondasi dengan pondasi yang lain, atau
  • menghubungkan antara satu sloof dengan sloof yang lain

Sloof yang menghubungkan antara satu pondasi dengan pondasi yang lain itulah yang disebut Tie Beam (balok pengikat), karena fungsinya adalah untuk memberi ikatan antar pondasi.

image

Continue reading

Rangkak Beton? Beton Bisa Merangkak??

Itu pertanyaan yang muncul di kepala saya begitu pertama kali mendengar istilah Rangkak Beton. Gimana caranya?? Open-mouthed smile Lagian, kenapa istilahnya rangkak?? Kayak bayi aja merangkak? Hehe

Baiklah… saya coba kasih tau rahasianya. Istilah itu diterjemahkan mentah-mentah dari istilah bahasa Inggris, creep. Menurut pengertian secara etimologi – saya copy-paste saja dari internet:

creep

krēp/

verb

1. move slowly and carefully, especially in order to avoid being heard or noticed.

Atau, kalo diterjemahkan ke bahasa pribumi… bergerak secara perlahan dan hati-hati, dengan tujuan biar ngga kedengaran atau ketahuan.

Kata kuncinya, bergerak secara perlahan, dan ngga ketahuan (terdeteksi).

Nah… fenomena ini yang terjadi pada beton… beton bisa “bergerak” dan nyaris ngga bisa diamati pergerakan itu. Soalnya terjadinya sangat lama dan sangat kecil. Sangat lama itu artinya dalam hitungan bulan bahkan tahun.

Beda dengan lendutan elastis (seketika) yang bisa diamati pada saat beton diberi beban. Saat itu juga kita bisa mengukur berapa lendutan, atau perpendekan yang dialami oleh beton. Tapi pada fenomena creep, ngga seperti itu.

Nah, karena di bahasa pribumi kita ngga ada padanan kata yang paling cocok untuk fenomena seperti itu, maka dipakelah terjemahan mentah-mentah dari istilah creep.. yaitu rangkak.

image

Seperti Apa Beton Merangkak?

Continue reading

PCACol – Cara Cepat Membaca Hasil Run

PCACol adalah software analisis dan desain kolom beton bertulang. Salah satu kelebihan dari software ini adalah fitur dan tampilan yang sederhana, tapi sangat kompak dan padat informasi. Tidak heran jika PCACol adalah salah satu software desain kolom beton yang sangat populer. Saat ini PCACol sudah berubah wujud menjadi Structure Point (tetap keluaran PCA juga), nama dan interfacenya aja yang diubah.

Ngomong-ngomong, seperti yang sudah kita tau, mendesain kolom beton itu relatif lebih susah daripada balok beton, soalnya kita harus membuat diagram interaksi P-M, yang bentuknya seperti ini…

diagram interaksi kolom

 

Continue reading

Posisi Purlin, Menghadap Ke Atas Atau Ke Bawah

Judul di atas adalah judul dari diskusi seru dan menarik yang ada di fanpage Dunia Teknik Sipil. Di website ini, admin akan memberikan komentar yang sifatnya berbagi informasi. Jadi, apa yang admin tulis di bawah ini hanya sebatas pengetahuan, penelitian, dan pengalaman admin saja. Jika ada kritikan, sanggahan, bantahan, dan lain sebagainya… sangat-sangat dipersilahkan mengisi kolom komentar.

Kasusnya sederhana, mana posisi purlin yang benar, terbuka ke atas atau ke bawah?

posisi purlin

nb : abaikan saja penampakan yang ada di tengah… anggap saja iklan.

Continue reading

Perbedaan Profil Baja I, WF, dan H

Profil WF (Wide Flange) adalah salah satu profil baja struktural yang paling populer digunakan untuk konstruksi baja. Namun, profil ini ternyata punya banyak nama. Ada yang menyebutnya dengan profil H, HWF, H-BEAM, IWF, dan I. Bahkan ada juga beberapa tempat yang menggunakan istilah WH, SH, dan MH. Sebenarnya mana yang paling tepat?

image

Kalo mau cari yang paling tepat sih menurut saya harus mengacu ke standar yang berlaku. Nah, kalo acuan kita adalah SNI, maka kita akan memperoleh ada beberapa standar untuk produksi material profil berbentuk I:

Continue reading