Category Archives: Artikel

Perancah Bekisting Yang Dipasang Miring

bekisting1

Semuanya berawal dari foto ini, yang diunggah di sebuah facebook page, tentang keresahan seseorang melihat perancah-perancah bekisting yang disusun seperti gambar di atas. Dari foto itu terlihat di beberap titik tertentu, ujung-ujung bawah perancah diposisikan di satu titik. Pertanyaannya adalah, kenapa dibuat seperti itu? Ada yang pro, ada yang kontra.

Menurut DTS gimana? Kita simak pelan-pelan aja yuks.

Continue reading

Apa Sih EPC Itu?

Kita awali dulu dengan kepanjangannya, EPC adalah singkatan dari istilah Engineering-Procurement-Construction.

Kalo dilihat dari istilah, EPC itu tidak lain adalah tahapan dalam suatu proyek konstruksi. Engineering adalah tahap desain perencanaan, Procurement adalah tahap pengadaan barang dan jasa, dan Construction adalah tahap pelaksanaan konstruksi.

image

Ada yang menarik di sini, yaitu tahap Procurement jarang ditemukan di dalam proyek biasa. Kalo proyek biasa, kita hanya mengenal tahap Perencanaan (Desain) dan tahap Pelaksanaan (Konstruksi). Lalu? Kenapa harus ada tahap Procurement? Jawabannya sederhana, karena proyeknya bukan proyek biasa.

Yup. Sistem EPC memang dipake di hampir sebagian besar proyek konstruksi yang “tidak biasa”, misalnya pada Industri Migas, Pembangkit Tenaga Listrik & Energi, Pertambangan, dan jenis industri berat lainnya. Sementara proyek yang kita anggap sebagai proyek biasa yaitu berbagai jenis bangunan gedung dan industri skala kecil ngga perlu menggunakan sistem EPC, malah bisa bikin susah.

Continue reading

Senjata Rahasia Perencana Struktur

Ketika ada satu pihak yang membutuhkan jasa perencana struktur, tipikal pertanyaan awal yang sering diajukan adalah, “Bisa kerjain ini nggak?”, “Bisa hitung struktur ini ngga?”, “Bisa desain bangunan ini nggak?”

Trus, apa jawaban yang diberikan? Macam-macam. Ada yang tanpa basa-basi bilang, “Bisa… sini saya kerjakan”.

2016-08-16_091023

Continue reading

Tiap Bangunan Konstruksi Itu Berbeda

Kami pernah mendapat pertanyaan singkat, "Pak, kalo untuk balok bentangan 5 m, ukuran dan pembesiannya berapa ya?"

2015-09-28_003405

Waduh..! Ada yang bisa jawab ngga? Bukannya nggak bisa… tapi kalau mau dituliskan, jawabannya bisa dijadikan satu buku tersendiri. Jadi, daripada saya buang energi menghabiskan tenaga, saya lebih baik bertanya balik kepada si penanya.

Yang mau saya tanyain antara lain:

  • Bangunannya untuk apa? Rumah? Hotel? Gudang? Kantor?
  • Baloknya menerus atau tunggal? Kalo menerus, berapa jumlah bentang, dan posisi balok tersebut ada di mana?
  • Posisi terhadap pelat lantai ada di mana? Di tengah (balok T), di ujung (balok L), atau nggak ada pelat lantai (balok persegi)
  • Apakah ada dinding di atas balok tersebut?
  • Apakah ada beban khusus di atas balok/lantai tersebut? Misalnya genset?
  • Kasur Raksasa? Atau pohon kurma?
  • Berapa mutu beton yang diinginkan?
  • Baloknya termasuk balok induk atau bukan (balok anak)?
  • Kalau balok induk, apakah memikul gempa atau tidak?
  • Apa lagi ya??… Nanti kalo kurang data saya tanya lagi deh.

Hehehehe… ribet kan? Daripada si penanya repot-repot menjawab, mending kirim aja gambar rencananya ke ahli struktur atau sejenisnya (yang jelas bisa ngitung struktur) Selesai perkara, tinggal duduk manis tunggu laporan dan hasilnya.

Pesan moral:

"Setiap bangunan konstruksi punya karakteristik masing-masing, sehingga tidak dapat digeneralisasi antara satu bangunan dengan bangunan yang lain, KECUALI jika bangunan tersebut memiliki BANYAK kemiripan sifat/karakteristik dengan yang bangunan lain"

Misalnya ada dua model struktur yang serupa, jumlah lantainya sama, bentang dan tinggi kolomnya sama, beban-beban permanennya sama, dan berada pada satu wilayah yang sama, katakanlah sama-sama di Jakarta, kalo mau spesifik lagi anggap saja bangunan itu adalah ruko.. hehe. Ternyata…ukuran balok dan kolomnya bisa beda, karena setelah diselidiki, bangunan yang satu berdiri di atas tanah yang termasuk kategori "tanah lunak" sementara yang lainnya di atas "tanah sedang".

Samain aja, gan.. ambil yang terbesar, trus digeneralisasi

Yaaa.. kalo seperti itu sih nggak masalah, proses desain bisa hemat waktu. Trik beberapa perencana struktur adalah seperti itu, untuk desain awal (preliminary) dihantam dengan ukuran yang besar-besar (yang masih masuk akal tentu saja). Saat desain itu direview oleh klien, perencana bisa punya waktu untuk melakukan perhitungan lebih detail sekaligus melakukan optimalisasi sehingga lebih ekonomis.

Kalo hitung balok pake rumus praktis yang L/10 sampai L/14 itu bisa nggak?

Bisa, tapi itu buat asumsi awal saja, untuk mempercepat perhitungan. Bukan buat desain akhir. Jadi, kalo panjang bentangnya 5 m, tinggi balok bisa kita coba dari 400 mm sampai 500 mm. Tinggal mencari lebarnya, kebutuhan tulangannya, dan mengecek lendutannya. Dan untuk itu kita harus tau berapa bebannya, bagaimana layoutnya, dll.. kembali ke pertanyaan di atas lah pokoknya. Nggak jarang dimensi struktur berbenturan dengan desain arsitek maupun planning dari M/E (Mekanikal & Elektrikal), sehingga harus disesuaikan lagi. Yang penting, selama syarat kekuatan dan kekakuan struktur terpenuhi, insya Allah perencana struktur bisa tidur dengan nyenyak.

Gan, untuk balok 5 m tadi, kalo saya pake ukuran 250 x 450, tulangannya 4D16 atas bawah.. kira-kira kuat nggak?

Sering sekali kami menerima pertanyaan yang mengandung kata "kira-kira". Kira-kira kuat nggak ya? Kalo mendapat pertanyaan seperti itu, ada dua jawaban: satu jawaban usil, satu lagi jawaban diplomatis.

Kalo jawaban usilnya adalah, "Dicoba dulu aja, kalo ambruk berarti nggak kuat.."

Tapi… kalo mau agak diplomatis, jawab aja seperti ini, "Selama tahanan strukturnya lebih besar daripada gaya dalam ultimate yang terjadi, struktur itu akan kuat".

Nah, kalo jawaban seperti ini, yang bertanya tentu akan ikut pusing. Mungkin karena males menghitung. Atau mungkin pusing karena nggak ada waktu buat menghitung. Atau pusing karena nggak tau cara ngitungnya bagaimana.

Sebenarnya ngitung itu gampang… yang susah adalah tanggung jawabnya. Sebagai seorang engineer, dengan data yang super minim, seberapa besar keberanian anda untuk memikul tanggung jawab atas kalkulasi yang anda berikan Smile

Solusinya gimana? Banyak. Salah satunya yang sering saya pakai. Kalau ada data yang kurang, saya akan membuat beberapa asumsi. Semakin minim datanya, semakin banyak asumsi yang akan kita buat. Setelah selesai analisis, dan hasilnya keluar, tinggal dikasih catatan… kalau ada salah satu kondisi aktual yang ngga sesuai dengan asumsi yang telah diambil, maka hasil analisis itu bukan tanggung jawab kita lagi. Selesai perkara. Open-mouthed smile

Nah… jadi tugas kita selanjutnya… tinggal bermain dengan asumsi-asumsi. Insya Allah dibahas di lain kesempatan.

[]semoga.bermanfaat[]

Musibah Konstruksi

image

Serem ya judulnya? Tapi isinya ngga serem kok. 😀

Mau bahas apa kali ini? Kita keluar topik dulu sejenak. Kali ini ngga ada hitung-hitungan, ngga ada analisa-analisaan, ngga ada desain-desainan, ngga ada pusing-pusingan. Kita coba merenung dan mengamati fakta yang ada di sekitar dunia kita, dunia konstruksi, dunia teknik sipil.

Kita kan udah tau, dalam mewujudkan suatu bangunan konstruksi, apapun itu, paling tidak ada 2 tahap penting: Perencanaan, dan Pelaksanaan.

Di tahap Perencanaa, si Insinyur punya tugas bagaimana mendesain sebuah bangunan konstruksi yang kuat. Kuat dalam arti tidak runtuh/collapse sewaktu difungsikan, maupun sewaktu menghadapi kondisi yang datang dari lingkungan. Rumah misalnya, ngga boleh ambruk ketika ditinggali, jangan sampai rubuh ketika terjadi gempa, ngga rusak ketika ada badai, dll. Inti dari semua itu kan cuma satu… jangan sampai ada korban nyawa atau terluka parah.

Continue reading