Hal-hal Yang Harus Diperhatikan Dalam Mendesain Kolom Beton Bertulang

Posted by admin on 04-Jan-2010 under Struktur Beton | 44 Comments to Read

logo_perspective01 Artikel ini membahas hal-hal apa saja yang perlu diperhatikan ketika mendesain elemen-elemen struktur khususnya struktur gedung.
Untuk bagian yang pertama kali ini, elemen yang dibahas adalah KOLOM.


A. Analisa

  1. Jenis taraf penjepitan kolom. Jika menggunakan tumpuan jepit, harus dipastikan pondasinya cukup kuat untuk menahan momen lentur dan menjaga agar tidak terjadi rotasi di ujung bawah kolom.
  2. Reduksi Momen Inersia
    Untuk pengaruh retak kolom, momen inersia penampang kolom direduksi menjadi 0.7Ig (Ig = momen inersia bersih penampang)

B. Beban Desain (Design Loads)

Yang perlu diperhatikan dalam beban yang digunakan untuk desain kolom beton adalah:

  1. Kombinasi Pembebanan.
    Seperti yang berlaku di SNI Beton, Baja, maupun Kayu.
  2. Reduksi Beban Hidup Kumulatif.
    Khusus untuk kolom (dan juga dinding yang memikul beban aksial), beban hidup boleh direduksi dengan menggunakan faktor reduksi beban hidup kumulatif. Rujukannya adalah Peraturan Pembebanan Indonesia (PBI) untuk Gedung 1983
    Tabelnya adalah sebagai berikut:

    Jumlah lantai yang dipikul Koefisien reduksi
    1 1.0
    2 1.0
    3 0.9
    4 0.8
    5 0.7
    6 0.6
    7 0.5
    8 atau lebih 0.4

    Contoh cara penggunaan:
    Misalnya ada sebuah kolom yang memikul 5 lantai. Masing-masing lantai memberikan reaksi beban hidup pada kolom sebesar 60 kN. Maka beban hidup yang digunakan untuk desain kolom pada masing-masing lantai adalah:
    – Lantai 5 : 1.0 x 60 = 60 kN
    – Lantai 4 : 1.0 x (2×60) = 120 kN
    – Lantai 3 : 0.9 x (3×60) = 162 kN
    – Lantai 2 : 0.8 x (4×60) = 192 kN
    – Lantai 1 : 0.7 x (5×60) = 210 kN
    Jadi, lantai paling bawah cukup didesain terhadap beban hidup 210 kN saja, tidak perlu sebesar 5×60 = 300 kN.
    Dasar dari pengambilkan reduksi ini adalah bahwa kecil kemungkinan suatu kolom dibebani penuh oleh beban hidup di setiap lantai. Pada contoh di atas, bisa dikatakan bahwa kecil kemungkinan kolom tersebut menerima beban hidup 60 kN pada setiap lantai pada waktu yang bersamaan. Sehingga beban kumulatif tersebut boleh direduksi.
    Catatan: Beban ini masih tetap harus dikalikan faktor beban di kombinasi pembebanan, misalnya 1.2D + 1.6L.

D. Gaya Dalam

  1. Gaya dalam yang diambil untuk desain harus sesuai dengan pengelompokan kolom apakah termasuk kolom bergoyang atau tak bergoyang, apakah termasuk kolom pendek atau kolom langsing.
  2. Perbesaran momen (orde kesatu), dan analisis P-Delta (orde kedua) juga harus dipertimbangkan untuk menentukan gaya dalam.

C. Detailing Kolom Beton

Untuk detailing, hal-hal yang perlu diperhatikan antara lain:

  1. Ukuran penampang kolom.
    Untuk kolom yang memikul gempa, ukuran kolom yang terkecil tidak boleh kurang dari 300 mm. Perbandingan dimensi kolom yang terkecil terhadap arah tegak lurusnya tidak boleh kurang dari 0.4. Misalnya kolom persegi dengan ukuran terkecil 300mm, maka ukuran arah tegak lurusnya harus tidak lebih dari 300/0.4 = 750 mm.
  2. Rasio tulangan tidak boleh kurang dari 0.01 (1%) dan tidak boleh lebih dari 0.08 (8%). Sementara untuk kolom pemikul gempa, rasio maksiumumnya adalah 6%. Kadang di dalam prakteknya, tulangan terpasang kurang dari minimum, misalnya 4D13 untuk kolom ukuran 250×250 (rasio 0.85%). Asalkan beban maksimumnya berada jauh di bawah kapasitas penampang sih, oke-oke saja. Tapi kalau memang itu kondisinya, mengubah ukuran kolom menjadi 200×200 dengan 4D13 (r = 1.33%) kami rasa lebih ekonomis. Yang penting semua persyaratan kekuatan dan kenyamanan masih terpenuhi.
  3. Tebal selimut beton adalah 40 mm. Toleransi 10 mm untuk d sama dengan 200 mm atau lebih kecil, dan toleransi 12 mm untuk d lebih besar dari 200 mm. d adalah ukuran penampang dikurangi tebal selimut. d adalah jarak antara serat terluar beton yang mengalami tekan terhadap titik pusat tulangan yang mengalami tarik. Misalnya kolom ukuran 300 x 300 mm, tebal selimut (ke titik berat tulangan utama) adalah 50 mm, maka d = 300-50 = 250 mm.
    Catatan:
    - toleransi 10 mm artinya selimut beton boleh berkurang sejauh 10 atau 12 mm akibat pergeseran tulangan sewaktu pemasangan besi tulangan. Tetapi toleransi tersebut tidak boleh sengaja dilakukan, misanya dengan memasang “tahu beton” untuk selimut setebal 30 mm.
    – Adukan plesteran dan finishing tidak termasuk selimut beton, karena adukan dan finishing tersebut sewaktu-waktu dapat dengan mudah keropos baik disengaja atau tidak disengaja.
  4. Pipa, saluran, atau selubung yang tidak berbahaya bagi beton (tidak reaktif) boleh ditanam di dalam kolom, asalkan luasnya tidak lebih dari 4% luas bersih penampang kolom, dan pipa/saluran/selubung tersebut harus ditanam di dalam inti beton (di dalam sengkang/ties/begel), bukan di selimut beton.
    Pipa aluminium tidak boleh ditanam, kecuali diberi lapisan pelindung. Aluminium dapat bereaksi dengan beton dan besi tulangan.

    kolom_14036_image001

  5. Spasi (jarak bersih) antar tulangan sepanjang sisi sengkang tidak boleh lebih dari 150 mm.
    kolom_14036_image005
  6. Sengkang/ties/begel adalah elemen penting pada kolom terutama pada daerah pertemuan balok-kolom dalam menahan beban gempa. Pemasangan sengkang harus benar-benar sesuai dengan yang disyaratkan oleh SNI.
    Selain menahan gaya geser, sengkang juga berguna untuk menahan/megikat tulangan utama dan inti beton tidak “berhamburan” sewaktu menerima gaya aksial yang sangat besar ketika gempa terjadi, sehingga kolom dapat mengembangkan tahanannya hingga batas maksimal (misalnya tulangan mulai leleh atau beton mencapai tegangan 0.85fc’)
  7. Transfer beban aksial pada struktur lantai yang mutunya berbeda.
    Pada high-rise building, kadang kita mendesain kolom dan pelat lantai dengan mutu beton yang berbeda. Misalnya pelat lantai menggunakan fc’25 MPa, dan kolom fc’40 MPa. Pada saat pelaksanaan (pengecoran lantai), bagian kolom yang berpotongan (intersection) dengan lantai tentu akan dicor sesuai mutu beton pelat lantai (25 MPa). Daerah intersection ini harus dicek terhadap beban aksial di atasnya. Tidak jarang di daerah ini diperlukan tambahan tulangan untuk mengakomodiasi kekuatan akibat mutu beton yang berbeda.

    kolom_14036_image006

Semoga bermanfaat[].

  • Amiboyz said,

    kalo dibilang se,oga bermanfaat, wah sangat bermanfaat pak. hehe. walaupun saya juga masih semester 3 tapi sangat informatif nih pa dan semoga nanti pas responsi berton bertulang tidak terlalu kaget lah. ehhe. oia maav nih pa kalo saya ada pertanyaan yang

    Catatan: Beban ini masih tetap harus dikalikan faktor beban di kombinasi pembebanan, misalnya 1.2D + 1.6L.

    nah D dan L itu nilai apa ya pak?

  • admin said,

    ooo.. D itu sama saja dengan DL alias Dead Load, dan L itu biasa juga ditulis LL atau Live Load.

  • Kholid said,

    wah artikelnya sangat bermanfaat sekali.Nah mau tanya beban Nu itu beban apa ya…?

  • admin said,

    Nu adalah beban aksial ultimate. Kadang ada yang menyimbolkan N*, Pu, P*, N_ult, P_ult, dll. Dalam ilustrasi di atas, Nu menunjukkan beban ultimate sebagai reaksi dari kolom di atas lantai yang sedang ditinjau.

  • Ronaldy said,

    pak juragan mo tanya lagi nh, klo di SNI untuk balok inersia penampangnya di reduksi 0.35Ig dan kolom 0.7Ig ya, nah klo kita gunakan Ig pada analisa portal setelah direduksi akan menghasilkan pendistribusian momen yg berbeda dengan analisa portal dengan Ig utuh, nilai gaya dala mana yg sebaiknya di gunakan untuk mencari luas tulangan yg di butuh kan pada portal beton, dengan Ig yg direduki atau dngan Ig yg tidak direduksi, ataw reduksi Ig hanya untuk kontrol lendutan saja juragan? mohon penjelasannya, trimsss . . . . . . .

  • catur said,

    salam kenal Juragan..
    artikel2y sangat bagus n berguna bagi saya…
    o ya, mau tanya nie Gan?
    pada point 5 di atas tertulis “Spasi (jarak bersih) antar tulangan sepanjang sisi sengkang tidak boleh lebih dari 150 mm”.
    brarti untuk kolom yang berukuran besar ( > 400 mm ),apakah harus mengikuti ketentuan tersebut?
    tks.

  • admin said,

    @Ronaldy:
    Betul sekali, faktor reduksinya sesuai dengan SNI baik untuk balok, kolom, maupun elemen struktur lainnya. Untuk analisis portal dengan menggunakan inersia utuh dengan inersia direduksi, hasil gaya-gaya dalamnya tentu berbeda. Dan yang digunakan untuk DESAIN dan cek lendutan adalah model yang momen inersianya DIREDUKSI, alias memperhitungkan beton yang sudah retak.

    @Catur:
    Yup.. berapa pun ukuran kolom, ketentuan jarak maksimal antar tulangan harus dipenuhi. Bagaimana dengan kolom 400mmx400mm? Tentu saja kita tidak bisa memasang 4 tulangan di setiap sudutnya, karena spasi antar tulangan bisa jadi lebih dari 150 mm. Solusinya?.. Yaa tinggal tambahkan saja tulangan di tengahnya, jadi masing-masing sisi ada 3 tulangan (total ada 8 tulangan), sehingga jarak bersih antar tulangan bisa dijaga agar tidak lebih dari 150 mm. Tinggal menghitung berapa diameter yang dibutuhkan.

  • arif said,

    kalo bisa ada gambar penulangan betonya donk…..
    biar kita2 yg pemula bisa lbh cpt mengerti

  • fery said,

    pak, tolong tampilin artikel tentang gempa dong pak…makasih

  • Alfonsus said,

    Pak, tolong tampilin perhitungan plat lantai jembatan dengan lebar plat 1.85 dan pjgnya 5.4375 dong…dengan menggunakan metoda M.Pigeaud…
    saya masih bingung menggunakan metode itu…apalagi pada kombinasi2nya….
    terima kasih sebelumnya…..

  • miko said,

    salam kenal………..
    pak,saya mau nanya…!!
    Pada perencanaan penampang dengan kekuatan batas / metode ulimate mengapa diperlukan faktor beban dan reduksi kekuatan??
    makasih

  • admin said,

    Wah.. ini pertanyaan susah.. mirip-mirip pertanyaan ujian atau tugas.. :)

    Sepengetahuan kami, DULU, metode yang digunakan adalah metode angka keamanan tunggal, konsepnya adalah kekuatan penampang (tanpa direduksi) dibandingkan dengan penjumlahan semua beban (tanpa dikali faktor). Rasio ini tidak boleh kurang dari angka keamanan tertentu, misalnya 1.5. Kalau disimbolkan R adalah tahanan, D adalah beban hidup dan L adalah beban mati, maka syarat struktur yang kuat adalah R/(D+L) > SF (Safety Factor).

    Tahanan struktur di atas adalah tahanan elastis.

    Kenyataannya, baik struktur beton maupun baja punya daktilitas yang memungkinkan struktur tersebut mengembangkan tahanannya hingga kondisi batas keruntuhan.

    Oleh karena itu beban-beban yang bekerja harus dikalikan suatu faktor beban (biasanya lebih besar atau sama dengan 1.0), sehingga tahanan struktur dapat mencapai kondisi batasnya. Dari statistik diperoleh bahwa beban hidul L mempunyai peluang yang lebih besar dari pada beban mati D dalam hal membuat struktur menjadi runtuh. Makanya dalam kombinasi antara D dan L saja, L mendapat faktor yang lebih besar. Kalo di SNI kombinasinya 1.2D + 1.6L.

    Sementara itu lagi-lagi berdasarkan statistik, untuk peluang kegagalan yang masih bisa diterima, tahanan struktur itu sendiri harus direduksi. Simpelnya gini, kalau mau peluang kegagalan mendekati 0, maka tahanan struktur sebaiknya direduksi sebanyak-banyaknya. Tapi kan rugi kalau tahanan struktur direduksi terlalu banyak. Misalnya tahanan tariknya 10 ton, tapi demi mengejar peluang kegagalan nol, tahanannya direduksi setengahnya menjadi 5 ton. Alhasil, memang benar peluang kegagalannya akan mendekati nol, alias struktur itu hampir mustahil menemui kegagalan, karena dalam desain tahanannya hanya dibatasi hingga 5 ton.

    Oleh karena itu, peluang kegagalan boleh dinaikkan asal masih dalam batas yang bisa diterima. Lagi-lagi ini ilmu statistik, saya sendiri tidak paham angka-angkanya. Jika peluang kegagalan dinaikkan, maka reduksi tahanan bisa lebih kecil. Kalo dibahasakan seperti ini, struktur yang tahanannya direduksi hingga mencapai 90% tahanan aslinya mempunyai peluang kegagalan yang lebih besar daripada jika reduksinya hingga 80%. Masuk akal.

    Untuk kasus yang berbeda, reduksi tahanan ini juga nilainya berbeda. Misalnya untuk tarik, beda dengan tekan, dll.

    Kami sendiri sebenarnya belum tau jawaban yang benarnya seperti apa, tapi jawaban di atas berdasarkan catatan kuliah dulu tentang metode ASD versus LRFD pada struktur baja.

    cmiiw[]

  • BIRU said,

    ijin nyimak… artikel2nya bagus

  • yuliant said,

    Bagi yang awam teknik sipil, bolehkah ditampilkan hitungan sederhana untuk kebutuhan struktur bangunan, misal untuk bangunan rumah tinggal 3 lantai, berapa kebutuhan kolomnya, untuk setiap luasan lantai berapakah kebutuhan kolom minimalnya trims

  • bupka said,

    ngobrol-ngobrol tentang teknik sipil, saya ada buku2 nya.
    ga baru sih, tapi masih bagus.
    saya ada web nya bupka.wordpress.com

  • tri said,

    bagus artikelnya………bisa kami pakai untuk perencanaan

  • real said,

    terimaksih buat infonya.

  • gayung said,

    Sebenarnya safety factor struktur Gedung itu berapa Ya? kalau Safety factor SNI=1,2D+1,6L apa tidak terlalu kecil. Karena lift penumpang yang dipasang gedung sesuai SNI safety factornya harus 5.

  • Agus said,

    Arikelnya bagus sekali dan sangat bermanfaat bagi saya yang ingin mendalami masalah teknik sipil…

  • sebut saja "ade" said,

    mantap gan!
    lanjutkan!

  • oky said,

    ada artikel tentang kegagalan struktur ndak…..?trims

  • jean said,

    Boleh tanya, dimana tempat untuk mendapatkan serifikat untuk mengetahui berapa besar beban yang dapat diletakkan di atas lantai pabrik yang terbuat dari pelat beton berongga (HCS) ?

    Terima kasih.

  • dewan said,

    ada yang tau perhitungan Plat Bondek atau spandek

    d3w4n_ebro@yahoo.co.id

  • anthony said,

    salam kenal pak,..saya mau tanya utk contoh penghitungan dalam artikel di atas kaitanny dengan tabel apa ya?? masih belum jelas saya T_T

  • pak iksan said,

    yg belum ngerti sampai saat ini adalah bagaimana cara mnghitung kbutuhan dia. sengkang??
    soalnya kalau dpt tugas, cm maen feeling engineering nya aja..paling2 pakai besi Dia. 10 klo gk yg Dia.8..

    bt Master2 disini, tlg bisikin ya trik/cara menghitungnya..
    trims’ sblm e..

  • pak iksan said,

    tabel yg berkaitan dg artikel diatas biasanya tabel luas tulangan, diagram interaksi..
    cmiiw

  • Rendy said,

    Saya mau tanya nih bos, jika kolom praktis pada for con, tertulis 10×10 (4D10 2D10-150) itu menggunakan besi BJTS. Namun pihak kontraktor mau mengkonversi dengan menggunakan wermesh, jadi sebaiknya menggunakan wermesh ukuran brp?. Yang sebanding dengan diatas / sesuai dengan perencana itu.

    Mohon di balas ke email saya ya,

    Thank’

  • admin said,

    wiremesh untuk tulangan kolom praktis? Gimana caranya ya? Apakah wiremeshnya dipotong-potong dulu? Yang jelas menggunakan wiremesh untuk tulangan kolom atau balok itu tidak lazim, walaupun itu hanya kolom praktis.
    Pengalaman saya, malah untuk kolom praktis, kami berani hanya menggunakan 2 buah tulangan D10 dengan sengkang berbentuk S atau Z.

  • dadi said,

    Boleh tanya pak / bu
    kalau ada kasus kolom lantai bawah lebih besar dari kolom diatasnya ( kolom bawah 50 x 50 sedangkan kolom atas 40×40)
    pertanyaan saya :
    1. sebaiknya kolom diatasnya rata pada sisi (luar / dalam ) atau justru seperti sistim botol ?
    2. apakah pada kasus ini akan terjadi eksentrissitas ?
    terima kasih

  • admin said,

    Itu tergantung dari arsitek. Tapi umumnya structure engineer lebih suka yang model botol untuk menghindari menghitung eksentrisitas. (Padahal sebenarnya dia bisa saja menghitungnya, tapi itu kan nambah kerjaan.. hehe )
    Tapi, biasanya arsitek lebih memilih rata luar. Tergantung mana yang lebih bisa diterima.
    Keduanya sudah banyak diterapkan, ada yang rata luar, ada yang rata tengah.

    Biasanya, kalo eksentrisitasnya tidak terlalu besar (kurang dari seperenam dimensi kolom), engineer struktur masih bisa terima.
    Besar kecilnya eksentristitas tetap harus dicek, karena itu nanti menjadi tambahan momen pada kolom.

  • achmad said,

    Ass. Saya mw tanya nih, bisa gak rumah tinggal 2 lntai kolom utamanya jarak 5 mter? Tpi menGgunakan dimensi kolom 30×30.

  • admin said,

    Wa’alaikum salam Pak Achmad. Untuk menghitung kekuatan kolom sebenarnya tidak cukup hanya dengan jarak antar kolom. Kita juga butuh data tinggi kolom, beban-beban di atasnya (posisi dinding, dll), layout balok, intinya sih bentuk keseluruhan strukturnya seperti apa.
    Tapi… ukuran 30x30cm adalah ukuran yang cukup besar, dan seharusnya untuk ukuran rumah tinggal, kolom tersebut cukup kuat. Saya nggak berani mengatakan 100% kuat, karena untuk mengeluarkan pernyataan itu saya harus membuktikan bahwa kekuatan kolom lebih besar daripada reaksi akibat beban yang bekerja.

    Dan, untuk membuktikan itu saya tidak bisa tanpa data yang lengkap. Bisa saja saya berasumsi, tapi kemungkinan besar tidak akan sama dengan kondisi aktualnya.

    Salam.

  • susan said,

    masbro,

    dalam mendesain gedung 3 lantai, ditengah -tengah ada kolom praktis. kalo pemodelan di etabs, saat di running kolom praktis ukuran 15×15 rasio nya >1 (O/S) tapi pas di cek di pcaKol dia masih aman. sebenernya bagaimana konsep penyaluran gaya untuk kolom praktis sendiri. Dan di lapangan, sebenernya dia bakalan failed atau tidak ?

  • admin said,

    kolom praktis itu bukan kolom struktural, jadi dia dianggap nggak memberi kontribusi terhadap kekuatan dan kekakuan struktur. Kolom praktis fungsinya hanya ‘memegang’ tembok/dinding agar stabil dan kaku.
    Kolom praktis ngga perlu dimodelkan dalam analisis struktur.

  • waluyo said,

    Pak mohon dibantu, rumah saya lantai 2, untuk lantai 1 tinggi dinding 4m dengan kolom uk. 10×40 cm dengan tulangan ulir d.10 8 btg, ring balk 10×45 cm dgn tulangan ulir d.10 10 btg. Apakah bangunan ini aman? bagaimana kalau diperlukan untuk perkuatan kolomnya, terimakasih

    Salam
    Waluyo

  • berto sihite said,

    Menyambung pertanyaan saya yg pertama,berapa ukuran ring balok, besi tulangan berapa batang dan ukuran berapa (…D…) dan adukan beton K berapa.
    Terimakasih
    Berto sihite

  • berto sihite said,

    Malam Pak,saya mau bangun gudang padi ukuran Lebar 10 m, Panjang 20 m dan Tinggi 6 m.rencana saya tiap jarak 5 meter ada kolom utama dan tiap 2.5 m ada kolom praktis (kolom bantu dinding bata).3 m dari sloof akan dibuat ring balok keliling. yg ingin saya tanyakan:
    1.secara tehnik berapa ukuran sloof
    2.berapa ukuran kolom utama,ring balok dan kolom praktis
    3.berapa batang tulangan besi dan jenis polos atau ulir ( …D…) untuk sloof, kolom, ring balok dan kolom praktis
    4.mutu campuran beton pakai K berapa untuk sloof, kolom, ring balok dan kolom praktis.
    Terimakasih
    Berto sihite

  • Liga Inggris said,

    Matur nuwun gan.

  • MUAMMAD SALEH, ST said,

    kolom utama 30x30cm besi tulangan pakai besi 12 ulir
    kolom praktis 12x12cm besi 10 ulir
    sloof 20x40cm besi 12 ulir
    balok 20×30 besi 10 ulir
    campuran beton K225
    untuk lebih jelas nya hubungi contac person : 085264682704

  • asep said,

    Slmt siang. Mohon saran dan masukanny, krn sy bukan dr teknik. Sya hendak membangun bangunan untuk penempatan shelter ckd, genset 12kva dll. Bangunan tsb, tinggi dari atas tanah sktr 2m, dengan menggunakan kolom. Beban diatas bangunan itu sktr 2 – 2,5 ton. Kira2 desain kolom, slof, pondasi dan mutu beton yg digunakan spt apa? Luas bangunan, sktr 7x7m. Terima kasih

  • gunawan said,

    saya mau bangun rumah 3 lantai,panjang 20 x lebar 10 m,rencananya pd setiap jarak 3m saya buat kolom utama(untuk panjangnya,jd ada 8 kolom)sedangkan pd lebarnya setiap 4 m ada kolom utama dan kolom praktis dijarak selahan 3meteran.Untuk estetika ruangan,lebar kolom saya buat mengikuti ukuran bata +/= 8 cm,sedangkan panjang 28 cm,shg jadinya nanti kira2 12 x 28 cm.Dan jumlah kolom lantai dasar kurang lebih 32 kolom ukuran 12 x 28 cm.Pertanyaannya adalah: 1. Berapa ukuran besi dan berapa batang yg diperlukan pada setiap kolom,sloof dan dak beton lantai 2 dan 3? 2. Berapa ukuran K beton yg diperlukan pada lantai 2 dan 3? 3.Apakah pemakaian ukuran besi perlu diperkecil pada lantai ke 3? 4.Apakah penggunaan batubata di lantai ke 3 dimungkinkan mengingat ukuran balok yg hanya 12 x 28 cm itu? Demikianlah,semoga Bapak berkenan memberikan jawabannya,terima kasih Pak atas bantuannya.

  • ahmad fauzi said,

    pak bisa minta tolong gak upload untuk koefisien momen grafik m pigeaud …
    terima kasih

  • sukamto said,

    Ass. Wr. Wb
    Selamat siang admin , salam kenal,
    Saya mau tanya brp ukuran Kolom dan Balok yg Ideal, apabila saya mau membangun rumah luas. 6M x 14M ( 3 lantai ) dgn rincian kurang lebih sebagai berikut :
    – lantai 1 :
    inginnya tidak ada kolom ditengah untuk ruang parkir motor dan ruang tamu ingin buat kumpul2 dengan tetangga sekitar jadi luas
    – lantai 2 :
    dilantai ini ada ruangan besar untuk kumpul2 pengajian dan kamar tidur
    – lantai 3:
    dilantai ini dipakai untuk ruang penyimpanan bahan2 kain buat boneka
    dan kamar tidur pegawe
    rumahnya ada di kampung dengan gang dengan lebar gang kurang lebih 120 cm
    Bagaimana rumus hitungan yg simple untuk penggunaan besinya.
    Mhn bantuan penjelasannya Pak Roni, untuk dimensi kolom, sloof dan baloknya ? Mhn sarannya Pak.. Walaikumussalam

    terimakasih

  • admin said,

    kalo ada denahnya dikirim aja ke juragan@duniatekniksipil.web.id

Add A Comment