Skip to content

Hal-hal Yang Harus Diperhatikan Dalam Mendesain Kolom Beton Bertulang

7 years ago

812 words

logo_perspective01 Artikel ini membahas hal-hal apa saja yang perlu diperhatikan ketika mendesain elemen-elemen struktur khususnya struktur gedung.
Untuk bagian yang pertama kali ini, elemen yang dibahas adalah KOLOM.


A. Analisa

  1. Jenis taraf penjepitan kolom. Jika menggunakan tumpuan jepit, harus dipastikan pondasinya cukup kuat untuk menahan momen lentur dan menjaga agar tidak terjadi rotasi di ujung bawah kolom.
  2. Reduksi Momen Inersia
    Untuk pengaruh retak kolom, momen inersia penampang kolom direduksi menjadi 0.7Ig (Ig = momen inersia bersih penampang)

B. Beban Desain (Design Loads)

Yang perlu diperhatikan dalam beban yang digunakan untuk desain kolom beton adalah:

  1. Kombinasi Pembebanan.
    Seperti yang berlaku di SNI Beton, Baja, maupun Kayu.
  2. Reduksi Beban Hidup Kumulatif.
    Khusus untuk kolom (dan juga dinding yang memikul beban aksial), beban hidup boleh direduksi dengan menggunakan faktor reduksi beban hidup kumulatif. Rujukannya adalah Peraturan Pembebanan Indonesia (PBI) untuk Gedung 1983
    Tabelnya adalah sebagai berikut:

    Jumlah lantai yang dipikul Koefisien reduksi
    1 1.0
    2 1.0
    3 0.9
    4 0.8
    5 0.7
    6 0.6
    7 0.5
    8 atau lebih 0.4

    Contoh cara penggunaan:
    Misalnya ada sebuah kolom yang memikul 5 lantai. Masing-masing lantai memberikan reaksi beban hidup pada kolom sebesar 60 kN. Maka beban hidup yang digunakan untuk desain kolom pada masing-masing lantai adalah:
    – Lantai 5 : 1.0 x 60 = 60 kN
    – Lantai 4 : 1.0 x (2×60) = 120 kN
    – Lantai 3 : 0.9 x (3×60) = 162 kN
    – Lantai 2 : 0.8 x (4×60) = 192 kN
    – Lantai 1 : 0.7 x (5×60) = 210 kN
    Jadi, lantai paling bawah cukup didesain terhadap beban hidup 210 kN saja, tidak perlu sebesar 5×60 = 300 kN.
    Dasar dari pengambilkan reduksi ini adalah bahwa kecil kemungkinan suatu kolom dibebani penuh oleh beban hidup di setiap lantai. Pada contoh di atas, bisa dikatakan bahwa kecil kemungkinan kolom tersebut menerima beban hidup 60 kN pada setiap lantai pada waktu yang bersamaan. Sehingga beban kumulatif tersebut boleh direduksi.
    Catatan: Beban ini masih tetap harus dikalikan faktor beban di kombinasi pembebanan, misalnya 1.2D + 1.6L.

D. Gaya Dalam

  1. Gaya dalam yang diambil untuk desain harus sesuai dengan pengelompokan kolom apakah termasuk kolom bergoyang atau tak bergoyang, apakah termasuk kolom pendek atau kolom langsing.
  2. Perbesaran momen (orde kesatu), dan analisis P-Delta (orde kedua) juga harus dipertimbangkan untuk menentukan gaya dalam.

C. Detailing Kolom Beton

Untuk detailing, hal-hal yang perlu diperhatikan antara lain:

  1. Ukuran penampang kolom.
    Untuk kolom yang memikul gempa, ukuran kolom yang terkecil tidak boleh kurang dari 300 mm. Perbandingan dimensi kolom yang terkecil terhadap arah tegak lurusnya tidak boleh kurang dari 0.4. Misalnya kolom persegi dengan ukuran terkecil 300mm, maka ukuran arah tegak lurusnya harus tidak lebih dari 300/0.4 = 750 mm.
  2. Rasio tulangan tidak boleh kurang dari 0.01 (1%) dan tidak boleh lebih dari 0.08 (8%). Sementara untuk kolom pemikul gempa, rasio maksiumumnya adalah 6%. Kadang di dalam prakteknya, tulangan terpasang kurang dari minimum, misalnya 4D13 untuk kolom ukuran 250×250 (rasio 0.85%). Asalkan beban maksimumnya berada jauh di bawah kapasitas penampang sih, oke-oke saja. Tapi kalau memang itu kondisinya, mengubah ukuran kolom menjadi 200×200 dengan 4D13 (r = 1.33%) kami rasa lebih ekonomis. Yang penting semua persyaratan kekuatan dan kenyamanan masih terpenuhi.
  3. Tebal selimut beton adalah 40 mm. Toleransi 10 mm untuk d sama dengan 200 mm atau lebih kecil, dan toleransi 12 mm untuk d lebih besar dari 200 mm. d adalah ukuran penampang dikurangi tebal selimut. d adalah jarak antara serat terluar beton yang mengalami tekan terhadap titik pusat tulangan yang mengalami tarik. Misalnya kolom ukuran 300 x 300 mm, tebal selimut (ke titik berat tulangan utama) adalah 50 mm, maka d = 300-50 = 250 mm.
    Catatan:
    – toleransi 10 mm artinya selimut beton boleh berkurang sejauh 10 atau 12 mm akibat pergeseran tulangan sewaktu pemasangan besi tulangan. Tetapi toleransi tersebut tidak boleh sengaja dilakukan, misanya dengan memasang “tahu beton” untuk selimut setebal 30 mm.
    – Adukan plesteran dan finishing tidak termasuk selimut beton, karena adukan dan finishing tersebut sewaktu-waktu dapat dengan mudah keropos baik disengaja atau tidak disengaja.
  4. Pipa, saluran, atau selubung yang tidak berbahaya bagi beton (tidak reaktif) boleh ditanam di dalam kolom, asalkan luasnya tidak lebih dari 4% luas bersih penampang kolom, dan pipa/saluran/selubung tersebut harus ditanam di dalam inti beton (di dalam sengkang/ties/begel), bukan di selimut beton.
    Pipa aluminium tidak boleh ditanam, kecuali diberi lapisan pelindung. Aluminium dapat bereaksi dengan beton dan besi tulangan.kolom_14036_image001
  5. Spasi (jarak bersih) antar tulangan sepanjang sisi sengkang tidak boleh lebih dari 150 mm.
    kolom_14036_image005
  6. Sengkang/ties/begel adalah elemen penting pada kolom terutama pada daerah pertemuan balok-kolom dalam menahan beban gempa. Pemasangan sengkang harus benar-benar sesuai dengan yang disyaratkan oleh SNI.
    Selain menahan gaya geser, sengkang juga berguna untuk menahan/megikat tulangan utama dan inti beton tidak “berhamburan” sewaktu menerima gaya aksial yang sangat besar ketika gempa terjadi, sehingga kolom dapat mengembangkan tahanannya hingga batas maksimal (misalnya tulangan mulai leleh atau beton mencapai tegangan 0.85fc’)
  7. Transfer beban aksial pada struktur lantai yang mutunya berbeda.
    Pada high-rise building, kadang kita mendesain kolom dan pelat lantai dengan mutu beton yang berbeda. Misalnya pelat lantai menggunakan fc’25 MPa, dan kolom fc’40 MPa. Pada saat pelaksanaan (pengecoran lantai), bagian kolom yang berpotongan (intersection) dengan lantai tentu akan dicor sesuai mutu beton pelat lantai (25 MPa). Daerah intersection ini harus dicek terhadap beban aksial di atasnya. Tidak jarang di daerah ini diperlukan tambahan tulangan untuk mengakomodiasi kekuatan akibat mutu beton yang berbeda.kolom_14036_image006

Semoga bermanfaat[].

62 thoughts on “Hal-hal Yang Harus Diperhatikan Dalam Mendesain Kolom Beton Bertulang”

  1. Salam kenal…
    Mohon pencerahanya.rmh saya ukuran 7.5×11.5
    Besar kolom 12×40 6d12 jumlah 12 titik dg tinggi kolom 3.2m.jarak masing2 kolom 3.5m as.menggunakan batako sebagai sekat
    Ukuran ring balk 20×40 dg tebal 12cm.sekat lantai 2 menggunakan bata ringan dan atap menggunakan baja ringan dan genteng metal..apakah itu sudah cukup apakah hrs ditambah kolom praktis untuk tambahan penguat.
    Terima kasih

  2. Halo, terima kasih atas infonya. Kalau boleh tahu, artikel Anda mengacu kepada SNI nomor berapakah? Sekalian minta izin untuk tulisannya digunakan sebagai referensi tugas kuliah saya, bolehkah?

    1. Referensinya dari SNI Beton (SNI 2847), sama Peraturan Pembebanan 1983 kalo ngga salah.
      Kami belum cross check terhadap Peraturan Pembebanan terbaru (SNI 1727)

  3. Sore pak, saya mau nanya, saya mau buat kolom buat rumah 2 laintai ukurannya 25cmx25cm. Yang mau saya tanyakan untuk panjangan bentangan kolom satu ke kolom lainnya itu berapa dengan ukuran buat tulangannya itu berapa ya pak? Terima kasih

    1. Secara teori (hitungan) kasar kolom 25×25 bisa dipasang hingga jarak 5m, tapi banyak faktor penentunya, misalnya ukuran balok-balok penyambungnya, posisi dinding-dinding di atasnya, beban-beban spesial yang ada di atasnya (misalnya gudang, taman, kolam renang, dll)
      Untuk kolom 25×25 minimal pakai 8D10 (ulir)

  4. Bagus sekali, standard ukuran pipa didalam kolom atau tiang pagar yang sering ditanam didalam penulangaannya, jika melebihi luas penampang kan mengurangi kekuatan konstruksinya. Izin repost / share buat berbagi #civilengineer #gens27.com, terimakasih

  5. Bagus artikelnya, kalau ada waktu bisa di ulas juga gan tentang pondasi strauss pile supaya tambah popular. Salam sukses selalu

Boleh komentar di sini

%d bloggers like this: