Skip to content
8 years ago

792 words

Suatu hari menjelang acara 17an, pak RT tiba-tiba mengumumkan keikutsertaan RT-nya dalam lomba menghias gapura. Karena waktunya sudah mepet, pak RT mengumpulkan warga yang ada saja pada waktu itu, termasuk si Genji, mahasiswa Teknik Sipil yang sedang ngekos di kampung situ. Setelah mengumpulkan ide-ide, akhirnya mereka sepakat untuk membuat gapura yang bagus tapi dengan bahan seadanya. Kebetulan di depan jalan sudah ada dua tiang beton yang berdiri, cuma tidak terawat, dan palangnya (baloknya) sudah lama patah kena runtuhan pohon waktu hujan deras beberapa bulan lalu.

Intinya, warga ingin memanfaatkan tiang beton tersebut, tinggal memasang palang baru yang menarik, dan sedikit polesan cat, gapura itu akan kelihatan lebih cantik. Oleh karena itu, pak RT merelakan patung kecil burung Garuda-nya untuk disumbangkan sebagai hiasan di gapura tersebut. Masalahnya, walopun kecil, ternyata patung itu lumayan juga beratnya, hampir 50 kg!

Warga mulai resah, “harus pake palang beton nih kalo mau kuat,” ujar Bang Somad.
“Ah, susah, Bang. Kudu ngecor lagi, bikin kaki-kaki lagi,(stagger atau proping/temporary support.red), nunggu kering lagi.. lama, Bang”, timpal Haji Sami.

Ada pula yang mengusulkan pake batang baja, tapi sayangnya agak susah diperoleh, dan kalo mau beli juga cukup mahal, sementara pak RT enggan memberatkan warga yang memang sudah berat-berat beban hidupnya.

“Pake bambu aja, Pak”, kata Pak Wahidin. “Di belakang rumah saya banyak bambu yang nggak kepake, tapi… kayaknya udah banyak yang dipotong-potong. Kalo mau kita ke rumah saya saja skarang, Pak”.

Pak RT mengangguk walaupun agak ragu. “Ayo, kita lihat saja dulu,” ajak Pak RT yang kemudian diikuti oleh langkah mereka, termasuk si Genji, menuju rumah Pak Wahidin yang hanya berjarak sekitar 50 m dari tempat mereka berkumpul.

“Waah,… bambunya kecil-kecil Pak,” kata Bang Somad begitu melihat tumpukan bambu di halaman belakang rumah Pak Wahidin. “Pendek-pendek lagi. Lebar gang kita kayaknya nggak cukup, pak. Kira-kira 5-6 meteran kan pak lebarnya?”

Pak RT dan yang lain mengiyakan. Di situ memang banyak tumpukan bambu, tapi ukurannya kecil-kecil, dan hanya ada 4-5 batang bambu yang panjangnya cukup untuk dibentangkan dari satu tiang gapura yang sudah ada ke tiang gapura yang lain yang menurut Bang Somad jaraknya sekitar 6 meter.

Di tengah kebingungan bapak-bapak tersebut, Genji maju mengamati beberapa batang bambu. Dia mengais-ngais tumpukan bambu tersebut. Matanya mengisyaratkan sesuatu yang sedang bekerja di otaknya. Sesuatu yang bersinar seperti bola pijar temuan paman Edison. Tangannya meraih sebuah potongan dahan kayu yang kecil. Kayu itu dia gunakan untuk menorehkan sesuatu di tanah. Sesuatu yang nampak seperti coretan angka-angka yang mungkin tidak ada satupun dari bapak-bapak yang ada di situ yang bisa memahaminya.

Dia menulis sesuatu yang kira-kira seperti ini:

\begin{array}{rll} P &= 50\, kg &= 0.5\, kN \\ M &= 0.5 \cdot \dfrac{0.5\, kN \cdot 6\, m}{4} &= 0.375\, kNm \\ && \\ h_{truss} &= 60\, cm &= 0.6\, m \\ \\ T = C &\approx \dfrac{0.375}{0.6} &= 0.625\, kN \\ \\ \overline{\sigma}_{ijin} &= 10 \, ^{kg}/_{cm^2} &=1000 \, ^{kN}/_{m^2} \\ \\ A_{perlu} &= \dfrac{0.625}{1000} &=6.25E^{-4}\, m^2 \quad = 6.25\, cm^2 \\ \\ D_{bambu} &= 5 cm & \\ t_{bambu} &= 0.6\, cm & \\ \\ A_{bambu} &= \tfrac{\pi}{4} \cdot \big (5^2-(5-2\cdot 0.6)^2 \big) &= 8.29 \, cm^2 \ge A_{perlu} \quad (OK!) \end{array}

“Bisa, pak!”, ujar Genji beberapa saat kemudian. Bapak-bapak serentak menoleh ke arah Genji yang masih berdiri di depan ‘karya tulis’-nya.

“Kita bikin double-truss!”, ujar Genji. Bapak-bapak cuma bisa melongo melihat ulah Genji. Bang Somad malah nyeletuk, “dobel teras?? mau bikin rumah ato gapura?? gapura kok pake teras?”

“Bambu-bambu ini ukurannya nanggung,” sahut Genji mengacuhkan ucapan Bang Somad. “Ada yang besar tapi pendek, dan ada yang panjang tapi ukurannya kecil. Saya tadi coba cari bambu yang ukurannya mencapai 6 meter, dan memang ada 4-5 batang seperti kata Bang Somad. Bambu-bambu itu paling kecil diameternya 5cm, dan tebalnya sekitar 0.6 cm.” kata Genji kemudian. “Kita akan buat rangka bambu. Mirip-mirip jembatan gitu lho pak.” Genji kemudian menggambarkan sesuatu di tanah.

“Dengan konfigurasi seperti ini, saya tadi sempat hitung-hitung secara kasar, dan bambu-bambu 5 cm itu masih kuat untuk menopang 50 kg patung garuda milik Pak RT.” Genji menjelaskan dengan mantap.

Sinaran lampu ide dari Genji perlahan-lahan mulai menerangi raut wajah bapak-bapak yang sepertinya masih berusaha sekuat tenaga untuk memahami apa yang baru saja diucapkan oleh Genji.

“Oke.. kita coba pake usulan nak Genji,” kata Pak RT memecah konsentrasi bapak-bapak yang loadingnya masih in-progress. Rupanya, Pak RT memilih langsung setuju daripada ikutan adu loading tercepat dengan bapak-bapak yang lain.

Akhirnya setelah melalui 2 hari tahap konstruksi, gapura double truss ala Genji pun berdiri dengan kokohnya di depan gerbang gang RT mereka.

gapura bambu

epilog : Seorang pengunjung tertegun mengamati gapura tersebut. Dia bertanya kepada pak RT tentang struktur gapura itu. Pak RT pun menjelaskan ala copy-paste dari yang pernah diutarakan oleh Genji. Si pengunjung kagum dengan wawasan dan ilmu yang dimiliki oleh Pak RT. Tiba-tiba si pengunjung bertanya, “Kalo member diagonalnya itu bagaimana ngeceknya, pak? Dan kontrol lendutannya bagaimana?”

Pak RT, “…?!?.. nggg…. ??”

5 thoughts on “Gapura Bambu”

  1. maaf tapi saya ora mudeng.. Juragan bisa jelaskan secara pelan? (tanpa pakai cerita)

    terimakasih

Boleh komentar di sini

%d bloggers like this: