SNI-Beton : Jarak Antar Tulangan

Posted by juragan on 23-Jul-2009 under Struktur Beton | 21 Comments to Read

Kadang sewaktu mendesain struktur beton bertulang, kita ingin menggunakan tulangan yang sangat banyak atau justru sangat sedikit. Jika tulangannya banyak, maka jarak antar tulangan menjadi sangat rapat, sebaliknya jika sedikit, maka jaraknya menjadi renggang. SNI-Beton-2002 sebenarnya sudah memberikan batasan jarak atau spasi antar tulangan baik itu untuk balok, kolom, pelat, maupun dinding.

Batasan Spasi Tulangan menurut pasal 7.6 SNI-2847-2002

  1. Jarak bersih antara tulangan sejajar dalam lapis yang sama tidak boleh kurang dari 25 mm.
  2. Jika tulangan terdiri dari lebih dari satu lapis (baris), maka jarak bersih antar baris tulangan adalah 25 mm.
  3. Untuk kolom, boundary element pada dinding geser, atau dinding yang mempunyai confinement (sengkang pengikat), jarak bersih antar tulangan utamanya adalah minimal 1.5d_b  atau 40 mm (mana yang terbesar).
  4. Pada dinding dan pelat lantai, tulangan lentur utama jaraknya harus kurang dari 3x tebal pelat (dinding) atau 500 mm (mana yang terbesar).

spasi-tulangan1

(sing palas… singkat padat jelas.. :D)

Semoga bermanfaat.[]

  • Mahasiswa Teksip FT Unlam said,

    Salam kenal!
    Mestinya lebih banyak situs seperti ini yang mengajarkan ilmu rumit dengan cara yang praktis dan mudah dipahami.
    Salut buat empunya situs ini! :-)

  • wani said,

    Salam kenal..
    Sy tinggal jauh di papua- di jayapura. Kebetulan sy baca artikel Bapak, dan mengingat beberapa hal:
    1. Jarak antar tulangan 25mm, dimana sy sudah membangun ruko 3 lt, untuk sy tempati sekeluarga, dimana waktu membangun sy ingat betul bahwa jarak antar tulangan balok, tidak 25 mm. Kebetulan balok saya bxh=25cm x 30cm utk bentang 3 m (ada dinding dibawahnya), pakai d12 polos, 6 diatas, 4 dibawah. Dan balok 25×40 utk bentang 4,5m. Besi d16 polos, 5 atas, 4 bawah. Dari jarak 25cm, pasti Bapak bisa bayangkan amat ramai untuk besi yg dipasang. ALHAMDULLLAH s/d saai ini (2006-2010) masih kuat berdiri tak terlihat retakan. Pertanyaan sy, apa bangunan ini diperbaiki atau tidak? dan perbaikan apa yg harus sy lakukan??

    2. Dalam satu artikel bapak mengatakan bahwa, jangan sampai air hujan bertemu langsung dengan besi tulangan. Faktanya sekarang, Ruko sy, dibangun melanjutkan ruko disampingnya, sy menggunakan pembesian plat lantai dan besi balok yang dari ruko samping kanan sy tersebut (ruko sampaing 2002, ruko sy 2006). Jadi selama 4 tahun sebelumnya besinya keluar menonjol begitu sj, dan memang banyak korosi yang sy lihat pd waktu sy menyambung dengan pembesian ruko sy.. Sekali lg sy bersyukur .ALHAMDULLLAH s/d saat ini (2006-2010), bangunan sy dan ruko disamping sy masih kuat berdiri. Pertanyaan sy, untuk sambungan antara ruko sy dengan ruko kanan sy ini apakah hal ini aman atau harus ada tindakan perbaikan tertentu? Lalu,sekarang 2010, ruko sy juga mengeluarkan besi plat dan balok kearah samping kiri ruko sy, dan sudah 4 tahun juga tidak tertutup beton, sehingga terlihat sudah agak berkarat, apa solusinya? Sekedar info, sekarang baru ada 2 ruko. dan direncanakan 2 atau 3 tahun lg baru ada ruko disamping kiri sy.

    Sekali lg tolong info dan solusinya yang terbaik namun tetap ekonomis dengan sumber daya dan teknologi yang ada di Jayapura – Papua.
    Terimaksih wassalam

  • admin said,

    Salam kenal, pak Wani

    Senang melihat pak Wani begitu concern dan peduli dengan hal-hal yang bapak sampaikan di atas.

    1. Mengenai spasi antar tulangan, kalau bisa saya gambarkan kira-kira pengaturan tulangan yang 6d16 itu seperti gambar di bawah?
    spasi_tulangan
    Jika memang seperti gambar di atas, bisa diperkirakan sewaktu mengecor, kerikil-kerikil (agregat) tidak bisa lolos untuk mengisi inti balok tersebut. Tetapi kenyataannya balok tersebut jadi juga, jadi pertanyaannya, lewat manakah kerikil-kerikil itu sampai bisa menyusup melewati tulangan yang segitu rapatnya? :)

    Kalau boleh saya menebak, 6d16 tulangan atas itu tentu tidak menerus sepanjang bentang balok? Maksud saya 6d16 tulangan atas hanya diperlukan di daerah seikitar tumpuan (kolom). Kalau di tengan bentang, jumlahnya bisa dikurangi, 4d16 misalnya. Kalau memang begitu kondisinya, berarti beton cair dituang dari tengah balok, kemudian mengalir mengisi ke daerah tumpuan. (?)

    Tapi, alasan utama tentu pak Wani (yang menyaksikan proses konstruksi) yang lebih tau. Mungkin waktu mengecor, tulangan atas tersebut digeser dulu sedikit agar ada celah untuk menuang beton. Atau, mungkin besi 6d16 itu dipasang (disusun) menjadi 2 lapis? Atau, hmm.. saya baru dapat kemungkinan lain, beton tersebut mengisi inti balok melalui sisi samping balok yang berbatasan dengan pelat lantai. (wallahu a’lam).
    cor balok

    Intinya, persyaratan jarak minimum tulangan 25mm adalah agar memudahkan sewaktu pengecoran dan memastikan semua agregat bisa masuk dan mengisi semua ruang yang ada. Beton yang keropos salah satu penyebabnya adalah karena beton tidak dipadatkan dengan baik, atau pemadatannya sudah cukup, tapi karena memang ruang yang tersedia cukup sempit untuk dilewati (diisi) oleh kerikil. Selain itu, jarak antar tulangan yang cukup akan membentuk ikatan yang lebih kuat antara beton dan tulangan, dibandingkan dengan jarak yang sangat rapat.

    2. Besi yang nongol keluar itu biasa disebut stek atau kalo istilah belakang mejanya adalah starter bars. Sebenarnya, tujuan stek itu untuk menyambung struktur yang pengecorannya dilakukan belakangan, selama masa konstruksi. Misalnya gini, ada balok 2 bentang menerus, tapi hari ini dicor satu bentang dulu, bentang sisanya dicor minggu depan, so, harus ada stek dari balok pertama. Tapi, kalau “belakangan”nya itu dalam hitungan tahun… kalo bisa dihindari. Tapi secara teknis sebenarnya masih bisa diterima, asalkan memenuhi persyaratan tertentu, misalnya panjang stek yang nongol itu minimal 40 kali diameter tulangan. Lebih panjang lebih baik. Trus, kalau tulangan itu berkarat, sebelum dibangun lagi, kalau karatnya parah (sampai berkerak-kerak), sehingga luas penampangnya menjadi banyak berkurang, sebaiknya tidak perlu dimanfaatkan lagi.
    stek

    3. Kekeliruan-kekeliruan yang disebut di atas memang tidak akan membuat bangunan akan rubuh, karena banyak faktor lain yang juga berpengaruh. Misalnya mungkin selama masa layan, bangunan ruko tersebut tidak mengalami (menerima) beban yang melebihi beban desain. Mungkin juga ada faktor “feeling” sewaktu mendesain bangunan tersebut, misalnya sewaktu dihitung butuh besi 5d13, ternyata yang dipasang 6d13 dengan alasan biar si perencana bisa tidur dengan tenang. :) Dan masih banyak faktor lainnya.

    4. Yang cukup menyita perhatian saya adalah proses penambahan ruko tersebut sedikit demi sedikit. Ruko adalah gedung yang paling gampang dihitung (karena bentuknya persegi dan tipikal..hehe). Tapi, kalau kasusnya seperti yang bapak ceritakan, ceritanya jadi lain. Untuk beban gravitasi mungkin tidak ada masalah, tapi untuk desain terhadap gempa itu yang perlu diperhatikan. Yaaa.. seharusnya memang tidak sesulit yang dibayangkan, tapi yang ada di benak kami adalah, si perencana ruko tersebut harus memperhitungkan tiap-tiap kondisi (tahap) pengembangan ruko tersebut. Misalnya tahap awal cuma ada 2-3 blok, dan lebar totalnya lebih kecil daripada panjang ruko ke belakang. Tahap akhir, misalnya ada 9-10 ruko, sehingga lebar totalnya menjadi lebih besar daripada panjang ke belakang. Dua kondisi ini perilakunya terhadap gempa menjadi berbeda.

    5. Kok jadi panjang balasnya ya?.. Semoga bisa membantu pak Wani.

    Wassalam[]

  • oerlee said,

    slam kenal…
    di situs ini semua tugas2 yg saya cari semua nya ada….
    trima.. dg semuanya,,,

  • beatriex said,

    Salam kenal,

    mau nanya2 yah…
    kadang kontraktor kan minta nya irit n cepet.
    jadi kerjanya rada ngawur.
    di lapangan kadang ada pekerjaan bor, trus ternyata pindah marking.
    bekas lubang bor dibiarin
    ngaruh ga buat kekuatan beton?
    logikanya beton nerima tekan.
    kalo dah ga solid lagi kan pasti ada pengurangan kekuatan
    tq

  • wani said,

    Malam Pak.
    Sebelumnya terima kasih sudah menjawab dengan jelas disertai gambar pula, jadi tambah jelas sekali.
    Untuk yang:
    1. Bapak tepat. Kalo berdasarkan besi yang saya pasang pd balok, 2 – 2 – 2 (D16), masing2 sy pasang behimpitan secara horizontal, shg ada cela untuk kerikil bisa masuk.
    2.Untuk besi stek, waktu itu ruko samping sy hanya mengeluarkan stek rata2, 50cm, seingat buku yang pernah sy baca, kalo menyambung besi, yg bagus 70xdiameter (D-10) mk = 70cm, namun karena yg ada steknya cuman 50cm, maka pada daerah sambungan tersebut, sy tambahkan besi yang tegak lurus stek. Jumlahnya 2X lebih banyak. (Besi plat arah bentang pendek sy tambahka 2 X lipat). Jd kalo bapak katakan 40xD (D-10)=40cm, mk sebenarnya berarti tanpa perl sy tambahkan memenuhi syarat ya? Berarti sy boros dong?
    3.Untuk yg ke-3, bpk betul lh, waktu itu hitungan sy 5,4 D16, lalu sy pasang 6D16, yah dibulat-bulatin keatas gitu
    4.kalo masalah gempa, kayaknya waktu itu sy tidak konsen disitu, kalo boleh tanya lg Pak, dengan ukuran Ruko 4,5mx15m (dimana 15m dibagi menjadi 3m an, shg ada 5 blok kebelakang), dimana rencananya akan ada 10 ruko, namun sekarang baru jadi 2 ruko, dan sekarang sedang ada 3 lagi pembangunan ruko nya, namun dari arah lain, nantinya direncanakan bertahap akan bergabung semuanya. Pertanyaan sy, kira2 aman ga ya pak?
    5. Kalo mau jawab agak panjang juga boleh Pak, sy senang sekali bs dibantu…
    Sekali lg terimakasih Pak…

  • juragan said,

    Pak Wani,
    untuk pembangunan ruko secara bertahap tinjauannya terhadap beban gempa insya Allah dibahas dalam bentuk artikel, pak. Cukup menarik soalnya. :)

  • bandono said,

    juragan kalo saya mau koleksi file file ini terus saya print gimana cara downloadnya TQ

  • Agung Gunawan said,

    saya ingin bertanya mengenai desain pier, ukurannya 10 m x 10 m dengan ketebalan 2 meter. pier ini ditopang oleh 9 buah tiang pancang pipa baja, apakah saya bisa mengasumsikan pier ini sebagai pelat? saya mecoba melakukan analisis tulangan pelat dengan menggunakan SAP2000. apakah asumsi pier sebagai pelat ini cukup representatif?
    terima kasih :)

  • admin said,

    Secara konservatif bisa. Kami pernah seperti itu. Tapi hasilnya akan terlalu boros dan tidak begitu menggambarkan kondisi aktual.
    Kalau mau analisis lebih detail sebaiknya piernya didesain sebagai model 3D (shell), sehingga hasilnya lebih akurat, tidak seboros jika dimodelkan sebagai pelat.

  • agung irwan said,

    apa bsa diterapkan dilapangan bozzz!!! ndak terlalu boros ta untuk gempa zona 2!!!

  • ridho said,

    ok tanks

  • ANDRI PUASMANTO, AR said,

    Salam kenal…

    Artikel-artikel anda sangat membantu saya…. terimakasih sebelumnya pak.
    ada pertanyaan saya ini pak????
    1. balok spandrel itu apa ya pak??
    2. apa kita perlu analisa dulu perhitungan beton rumah tinggal lantai 2???? atau ada cara praktisnya untuk mengetahui dimensi nya serta ukuran tulangan yang dipakai??? tolong jawaban mya ya pak””””

  • admin said,

    @pak andri. terima kasih atas kunjungan dan komentarnya.

    1. balok spandrel biasa disebut link beam, atau balok perangkai. Sepanjang pengetahuan kami, istilah spandrel memang jarang digunakan dalam praktek, tapi di referensi/literatur maupun di dalam software analisis/desain struktur istilah itu sering dipakai. Spandrel adalah balok yang menghubungkan antara 2 dinding geser (shear wall), fungsinya sebagai link atau penghubung.

    2. Untuk rumah 2 lantai, kalau ukuran bentangnya standar, dan penggunaan ruangan lantai 2 juga standar (untuk keperluan hunian) tidak perlu dihitung. Biasanya arsitek sudah tau berapa ukuran yang sering digunakan. Tapi, jika ada kasus khusus misalnya jaran antar kolom cukup jauh (6 m misalnya), atau, di lantai 2 nanti mau diletakkan beban yang cukup berat misalnya water tank, bak air atau torren, itu perlu perhitungan khusus. Untuk cara praktisnya hampir tidak ada, karena banyak faktor yang menentukan. Misalnya 2 hal di atas sudah dibahas yaitu panjang bentang dan beban, selain itu ada faktor lain, mutu beton, jenis tulangan (ulir atau polos), jumlah bentangan (satu bentang atau menerus), jarak antar balok, dan juga kadang ada perlakuan khusus untuk balok yang memikul dinding bata di atasnya.
    Simpelnya, kalau saya ditanya untuk kamar tidur bentang balok 5 m, ukuran dan tulangannya berapa? Jawabannya sangat banyak pilihannya. Kalau mau praktis, lebih baik desainnya tidak aneh-aneh.. :) jadi bisa refer ke bangunan lain yang serupa.

  • samonlanan said,

    Selamat pagi.

    Saya sedang mencari referensi tentang balok perangkai dan kebetulan menemukan artikel Anda. Saya punya pertanyaan sbb:
    1. Kapan sebuah balok disebut balok perangkai?
    2. Apakah sebuah balok yang menghubungkan 2 buah dinding geser yang sejajar dapat disebut balok perangkai? ( sebuah balok dengan arah tegak lurus terhadap 2 dinding geser yang sejajar ).

    Saya mohon penjelasannya Pak. Terimakasih.

  • Mustakim said,

    Bagus isinya. Untuk Daerah gempa seperti di Papua bagaimananya desain tulangan untuk ruko atau ruting lebih 2 lantai agar aman dan tidak mudah retak antara beton dan dinding?

  • dewan said,

    ada yang tau cara perhitungan Plat Bondek atau spandek

    tlg balas juga ke d3w4n_ebro@yahoo.co.id

  • jess said,

    Teman2 sekalian ada yang punya contoh skripsi dengan Judul: Pengaruh Jarak Sengkang Pada Sambungan Tulangan Balok Terlentur??plizzz e-mail ke felix_talan2003@yahoo.com

  • sena said,

    gimana y cara perhitungan spandek??mohon bantuannya…
    kirim k email: aliffiansena@yahoo.com

  • lizz said,

    ada sni beton yg thun 2002…?
    klo ada tlg kirim k email sya yaa gan…
    thanx…

  • lizz said,

    kirim ksini yaa…dmohon bntuannya… :)
    LIZzie.moetzz@gmail.com

Add A Comment