Desain Balok Beton Bertulang (5)

Posted by admin on 22-Jun-2009 under Struktur Beton | 44 Comments to Read

Nah, bagian terakhir dari serial desain balok beton ini adalah bagian yang penting namun kadang diabaikan, yaitu kontrol lendutan dan retak. Setelah ini baru kita lihat contoh kasus dalam kehidupan sehari-hari. :)

Beton punya sifat susut dan rangkak. Susut adalah pemendekan beton selama proses pengerasan dan pengeringan pada temperatur konstan. Sementara rangkak terjadi pada beton yang dibebani secara tetap dalam jangka waktu yang lama. Oleh karena itu pada balok beton dikenal istilah short-term (immediate) deflection dan long-term deflection.

Kontrol Lendutan Balok Pada SNI 03-2847-2002

Kita tau kalau lendutan itu adalah fungsi dari kekakuan yaitu perkalian antara modulus elastisitas beton E_c dengan inersia penampang I , lebih populer dengan istilah EI . Ternyata eh ternyata… lendutan itu harus dibatasi, karena itu menyangkut masalah kenyamanan. SNI-Beton-2002 kali ini dengan tegas membuat butir tersendiri, yaitu butir 9.5 tentang Kontrol Terhadap Lendutan.

16-tabel-minimum-h

Pada butir 9.5(2), dikatakan bahwa jika lendutan harus dihitung, maka lendutan yang terjadi seketika (immediate deflection) dihitung dengan metode atau formula standar untuk lendutan elastis, dengan memperhitungkan pengaruh retak dan tulangan terhadap kekakuan struktur.

Pengaruh Retak dan Tulangan Terhadap Kekakuan Struktur.

Balok beton bisa retak ketika menahan momen lentur. Sewaktu serat bawah tertarik (momen positif), beton sebenarnya bisa menahan tegangan tarik tersebut, tetapi seperti kita ketahui bahwa kuat tarik beton sangat kecil.

SNI-Beton-2002 membatasi untuk beton normal, kekuatan beton dalam menahan tarik akibat lentur adalah f_r = 0.7 \sqrt{f'_c} . f_r ini biasa dikenal dengan tegangan retak.

Sementara momen lentur yang dapat menyebabkan terjadinya retak ini adalah
M_{cr} = \dfrac{f_r I_g}{y_t}
I_g adalah momen inersia penampang utuh, termasuk lebar efektif sayap pada balok T atau L.
y_t adalah jarak dari garis netral penampang ke serat bawah penampang beton.

Jika momen lentur yang terjadi kurang dari M_{cr} , maka penampang tidak retak, sebaliknya jika lebih dari M_{cr} maka penampang akan retak.

Memangnya Kenapa Kalau Balok Retak?

Ketika balok retak, penampang menjadi tidak utuh lagi. Balok yang semula ukurannya 300×500 misalnya, menjadi tidak efektif lagi, yaaa.. mungkin tinggi balok yang masih utuh (tidak retak) hanya sekitar 300 atau 250 mm.

Oleh karena itu, momen inersia yang dipakai bukan lagi bh^3/12 , melainkan lebih kecil lagi. Jika momen inersianya menjadi lebih kecil, lendutannya tentu bertambah besar. Itulah sebabnya faktor keretakan penampang balok ini menjadi hal yang sangat penting.

Bagaimana Menganalisis Penampang Retak?
Metode yang digunakan adalah metode transformasi. (wuih.. mirip-mirip Transformers gitu ya?). Yaaa.. mirip-mirip lah. Tapi yang ini bukan robot yang berubah menjadi mobil, pesawat, dll. Tapi balok beton yang berubah menjadi robot. (!?) Yang ditransformasi adalah baja menjadi beton. Keren kan?
Kenapa harus ditarnsformasi?
Yaaa… untuk mempermudah perhitungan. Kan seperti kata pepatah.. kalo bisa dipermudah kenapa harus dipersulit? Gitu aja kok repot..! :D

Sewaktu terjadi momen lentur (positif), serat bawah balok kan mengalami tarik dan retak. Ketika retak, tegangan tarik itu dipikul seluruhnya oleh tulangan baja. Untuk menghitung lendutan, butuh momen inersia penampang. Jika penampang tidak homogen, susah ngitung momen inersianya. Makanya tulangan bajanya perlu ditransformasikan menjadi beton.
F_s = A_s \cdot f_s \ F_s = A_s \cdot (E_s \cdot \epsilon)
Ada sebuah faktor yang dinamakan dengan rasio modular, yaitu perbandingan antara modulus elastisitas baja terhadap modulus elastisitas beton.
n = E_S/E_c
Sehingga,
F_s = A_s \cdot n \cdot E_c \cdot \epsilon
nA_s inilah luas beton yang ditransformasikan dari luas tulangan baja.

Menghitung Momen Inersia Transformasi Penampang Retak

16-penampang-retak

Prosedurnya :

  1. Hitung lokasi garis netral c terhadap serat atas, dengan persamaan:
    c = \dfrac{A_{gc} \cdot y_c + A'_s \cdot y_s }{A_{gc} + A_s}
    A_{gc} = b \cdot c
    y_c = c/2
    A'_s = n \cdot A_s , A'_s adalah luas penampang transformasi dari tulangan baja, A_s
    y_s = d
  2. Dari persamaan tersebut, diperoleh persamaan kuadrat
    bc^2 + 2nA_sc - 2nA_sd = 0 ,
    sehingga nilai c bisa dihitung.
  3. Hitung momen inersia retak, sebagai berikut:
    I_{retak} = I_{c0} + A_{gc} \cdot {y_c}^2 + nA_s \cdot {y_s}^2

Momen Inersia Efektif I_{eff}

I_{retak} yang dihitung diatas belum boleh digunakan buat menghitung lendutan saat retak. Parameter EI harus menggunakan I_{eff} seperti yang sudah disebutkan di SNI-Beton-2002.

Bagaimana menghitung I_{eff} ?

  1. I_{eff} = I_{cr} + (I_g - I_{cr}) \big( \dfrac{M_{cr}}{M_a} \big)^3
  2. M_a , adalah momen layan, momen service atau momen kerja (bukan ultimate)
    M_a = M_{DL} + M_{LL}
  3. I_{eff} tidak boleh lebih besar daripada I_g .

Selesai…
fiuh.. buru-buru sih.. kejar tayang.. makanya agak-agak bijimanaa gitu.

next : langsung contoh kasus lah… biar puas..puas.. puaasss..

  • jhonra volta nababan said,

    menghitung konstruksi baja bila terjadi overload?

  • admin said,

    untuk baja kami usahakan artikelnya sedikit demi sedikit.
    Overload pada baja? Saya asumsikan overload di sini adalah kondisi di mana beban ultimate lebih besar dari tahanan nominal.
    Jika itu terjadi, banyak skenario yang bisa terjadi, tergantung dari apa yang menentukan tahanan nominal tersebut.
    Misalnya pada balok WF, skenario keruntuhan yang bisa terjadi antara lain : tekuk torsi lateral, tekuk pada pelat sayap, tekuk pada pelat badan, leleh lentur, keruntuhan geser, dll. Tiap-tiap skenario dihitung tahanannya berapa, kemudian dicari yang terkecil, itulah yang menjadi penentu kegagalan yang bakal terjadi.

  • ronaldy said,

    juragan mao tanya nh,klo hubungan join kolom balok akibat gempa untuk 8 lantai ke bawah perlu ditinjau ndak y?

  • admin said,

    Kalo tipenya SRPMK, harus ditinjau. 8 lantai masih cukup tinggi. Batas minimum tinggi lantai juga kurang jelas. Tapi kadang 3-4 lantai pun tetap dicek syarat-syarat kegempaannya, sesuai jenis sistem rangka pemikul momennya (biasa, menengah, atau khusus)
    -cmiiw-

  • andri said,

    pak, sy mempunyai masalah dengan design tangga tebal 12 cm dan lebar 130 cm dengan Penulangan D13-110 ternyata setelah jadi ternyata terjadi crack lentur… padahal secara kapasitas momen masih jauh, kira 2 apa penyebabnya…???

  • admin said,

    Trims, pak andri.
    Panjang bentang tangganya kebetulan tidak diinfokan. Kalau memang tangganya didesain sebagai balok tumpuan sederhana (satu tumpuan). Sepertinya bentangannya cukup panjang ya pak ya? 5-6 m?
    Kalo menurut saya, rasio tulangan yang dipakai agak berlebihan, walopun secara strength itu masih kuat, tapi sepertinya perencana “memaksakan” untuk menambah tulangan daripada menambah tebal pelat tangga.
    Biasanya, kalau ada kasus “pemaksaan” seperti ini, kekuatannya memang oke, tapi lendutannya yang tidak oke. Bicara soal lendutan, tentu ada hubungannya dengan retak. Tidak heran jika terjadi retak lentur pada struktur tangga tersebut.
    Tulangan D13-110 untuk tebal 12 cm menurut kami itu lebih dari cukup banyak.
    Kalo menurut perhitungan kasar, tebal 12 cm itu adalah untuk tangga dengan panjang bentang maksimal 3m.
    Sementara untuk panjang bentang 5-6 m, minimal tebal pelatnya adalah 18 cm.
    Untuk pembuktiannya bisa dibuktikan dengan perhitungan kasar sbb:
    (cat : perhitungan untuk per m lebar)
    Tebal pelat = 120 mm.
    Panjang bentang = 5m.
    Berat sendiri paling sedikit = 25 \ kN/m^3 \times 0.12 \ mm = 3 \ kN/m
    Momen akibat berat sendiri = \dfrac{3 \times 5^2}{8} = 9.375 kNm
    Momen crack = 0.7 \sqrt(25) \times \dfrac{1000 \times 120^2}{6} = 8.4 kNm
    Dari hitungan di atas bisa terlihat bahwa momen akibat berat sendirinya saja sudah lebih besar daripada momen crack.
    Trima kasih
    Salam,

  • admin said,

    @pak andri,
    kalo memang momen kapasitas masih jauh, bisa dicek kemungkinan-kemungkinan lain:
    1. bekisting dilepas sebelum beton cukup umur (28 hari) dan langsung menerima beban yang besar
    2. ada beban permanen yang berat, misalnya railing (parapet) dari batu bata
    3. panjang bentang yang cukup jauh
    4. pernah mengalami pembebanan yang besar dan tiba-tiba
    5. bisa juga karena tebal selimut beton terlalu besar, sehingga tinggi efektif tulangannya menjadi berkurang

  • andri said,

    @ Andri
    terima kasih pak atas masukannya.
    sekedar info tambahan tangga yg dibuat panjang bentangnya 4.5 m dengan tumpuan sendi-sendi dan design beban hidup 300 kg/m2. dan f’c = 29
    beban lain belum ada, hanya berat sendiri tangga aja.
    truz klo tebalnya saya tambah menjadi 15 cm apakah sudah memenuhi syarat…

    terima kasih atas bantuannya.

  • admin said,

    Pak Andri,
    Yang pertama, untuk bentang 4.5 m, sebenarnya tebal 15 cm masih kurang dalam hal kontrol lendutan jangka panjang (beban hidup dan mati sudah bekerja). Secara kasar, lendutan jangka panjang untuk tangga tersebut adalah sekitar 20mm atau kurang lebih L/225, sementara (kalau tidak salah) SNI Beton membatasi lendutan maksimum L/250. Kalau secara kekuatan tidak ada masalah (D13-110).
    Kenapa lendutan ini penting, karena berkaitan dengan “kenyamanan”. Lendutan yang cukup besar juga bisa mengakibatkan kerusakan arsitektural, misalnya finishing keramik (jika ada). Atau, jika di bagian bawah tangga tersebut dimanfaatkan sebagai ruangan dan ada dinding bata yang berdiri di bawah pelat tangga, dinding tersebut bisa retak. Retak karena kurang kuat menumpu lendutan jangka panjang dari pelat tangga. Atau, kalaupun dinding itu cukup kuat, dia harus “mentransfer” beban adri pelat tangga ke lantai di mana dinding tersebut berdiri, dan tentu lantai tersebut harus dicek lagi kekuatan dan lendutannya.

    Yang kedua, penambahan tebal pelat yang tadinya 12cm menjadi 15cm dengan tujuan sebagai “perkuatan” juga tidak bisa dilakukan sembarangan. Saya sendiri belum pernah membaca peraturan atau standar (terutama di Indonesia) yang mengatur hal ini, tapi kalo code luar negeri ada aturannya (kalau tidak salah ada di FEMA, disitu dibahas tentang segala jenis perkuatan mulai dari yang paling ringan sampai yang paling berat). Mengenai hal ini saya juga cuma dengar dari diskusi, belum pernah mengkaji secara langsung.

    Yang jelas yang perlu diperhatikan ketika menambah tebal pelat adalah: Apakah akan terjadi slip antara permukaan beton yang lama dan baru?
    Beton yang ditambahkan otomatis akan menambah tebal selimut beton, sehingga dalam analisis perlu diperhitungkan. Jika di tengah bentang terdapat tulangan atas, bisa saja sewaktu tebalnya ditambah tulangan atas ini justru berperilaku tarik (walaupun momen positif), sebab tinggi blok tekan beton akan berada di atas tulangan atas.

    Semoga membantu, dan semoga sukses

  • andri said,

    trims’s pak atas bantuanya
    pak, saya mau nanya lg ne..
    klo di program sap 2000 lendutan balok beton bertulang apakah sudah memperhitungkan inersia cracknya atau hanya dari inersia penampang utuh untuk kasus Momen yang terjadi lebih besar dari momen crack?

    @ Andri

  • admin said,

    Pak Andri, maaf kalo baru balas sekarang. Lendutan balok beton di SAP secara default adalah lendutan seketika, belum memperhitungan retak, rangkak, dan susut.
    Kalau mau menghitung lendutan penampang retaknya, boleh mengalikan faktor penampang (modifier) sebesar 0.35 pada momen inersianya. Artinya momen inersia direduksi hingga 35%. (SNI 03-2847-2002 butir 10.11.1).
    Sementara untuk lendutan jangka panjangnya, secara konservatif bisa dihitung dengan mengalikan besar lendutan elastis seketika (dengan mempertimbangkan retak) dengan suatu faktor yang besarnya sama dengan 2. (SNI 03-2847-2002 butir 9.5.2.5)

  • Edwin said,

    Pak saya awam di teknik sipil, mau minta advicenya.
    Critanya saya lagi mau membangun carport ukuran 6m x 6m dengan tebal plat dak 12 mm. Di atas plat dak tdk akan dibangun apapun. Carportnya disangga dengan kolom di 6 titik pada keliling plat dak sehingga tdk ada kolom di tengah plat dak. Akan ada balok melintang dari setiap sisi, sehingga akan cross di tengah plat dak. Berdasarkan hitungan dan konsultasi dengan tukang, spesikasi kolom dan baloknya sbb :
    – Kolom : Ukuran : 20 x 20, besi dia 10-4 buah, besi dia 12- 4 buah, begel – besi dia 8-jarak 15 cm.
    – Balok : Ukuran 20 x 30, besi dia 10-4 buah, besi dia 12- 4 buah, begel – besi dia 8-jarak 15 cm.

    Bagaimana menurut bapak ? over spec atau under spec ?

    Trimakasih sebelumnya

  • Edwin said,

    Kira gambarnya spt ini, maaf masih jadul :)
    x—–x—–x
    | | |
    | | |
    ————-
    | | |
    | | |
    x—–x—–x

    Ket :
    x = kolom, — = balok

  • admin said,

    @pak Edwin,
    1. Kalo atap carportnya terkena hujan, tebal minimum yang disyaratkan adalah 15 cm. Pertimbangannya adalah, harus ada tebal selimut beton yang cukup untuk melindungi besi tulangan agar tidak terkena air. Kalo terkena air, bisa karat. Kalo karat, bisa berkurang kekuatannya. Kalo kekuatannya berkurang, lendutan di atap carport itu bisa semakin besar. Kalo lendutannya semakin besar, air hujan akan tertampung di atas, sehingga menambah beban lagi.. :)

    2. Besi tulangannya kalo kami rekomendasikan pake besi ulir untuk tulangan utama, untuk begel (sengkang) boleh besi polos. Besi ulir lebih kuat lekatannya, sehingga lebih tahan terhadap gempa. Mutunya juga hampir dua kali beli polos.

    3. Ukuran kolom 20×20 dengan 4D13 (ulir) sudah cukup.

    4. Ukuran balok ada 2. Kalo sesuai denah jadul bapak di atas, balok-balok arah sumbu X, boleh pakai 20×30, besi 3D10 atau 2D13 atas bawah, begel 10 jarak 15.

    5. Balok arah sumbu Y, menghubungkan kolom atas dan bawah, ukurannya harus lebih besar karena panjang bentangnya lebih besar (6 m), dan balok itu sebagai tumpuan balok melintang yang ada di tengah. Ukurannya 25×55, besi 6D13 bawah 3D13 atas, begel 10 jarak 15.
    Sebenarnya ukuran 25×50 masih kuat, tapi yang kami pertimbangkan adalah lendutan jangka panjang. Jika carport itu mempunyai pintu, apapun jenis pintunya, pintu itu lama kelamaan akan agak susah dibuka atau mungkin juga rusak karena balok di atasnya melendut.

    nb :
    a. kalo tetap mau pake besi polos, jumlah-jumlah besi di atas dikalikan saja dengan 1.67 (yaitu perbandingan mutu besi ulir 400 MPa dengan besi polos 240 MPa). Misalnya 3D13 -> 5d13.
    b. Mutu beton minimal Fc’ 14.5 MPa (K-175).[]

    -cmiiw-

  • Edwin said,

    Terima kasih atas pencerahannya pak

  • tata said,

    Bagaimana cara singkat apakah pembesian balok sudah ideal atau tidak?
    Ada rumus untuk ndak juragan?

  • admin said,

    Cara singkat hampir tidak ada. Kalo sekedar menentukan kuat atau tidak itu tidak sulit. Tapi kalo harus mengecek parameter lain seperti lendutan dan retak, tidak ada cara mudah selain harus dihitung (analisis).

    Tapi, saya sempat mengintip grafik hubungan antara \dfrac{M_u}{bd^2}  , versus rasio luas tulangan. Untuk idealnya, nilai \dfrac{M_u}{bd^2}  sebaiknya berada di antara 1.1 dan 2.7. Kenapa begitu? Silahkan ditelusuri dulu, insya Allah kami coba bahas di artikel lain. :)

  • fajri said,

    mau tnya,, knapa kok ukuran balokyang diatas biasanya lbh besar dari yang dibawah, tolong balas juga di email saya, trimakasih

  • NURÁINI said,

    PA SAYA MO NANYA : saya mencoba membandingkan hasil dari analisis staad untuk tulangan balok menerus, yaitu analisi manual dan program STAAD Pro 2004.. untuk hasil penulangan berbeda besar, kira2 biasanx yg menentukan perbedaan tersebut apa saja, yang bisa dikoreksi dalam analisis manualnx.????

  • admin said,

    Sebelumnya saya sangat mengapresiasi usaha rekan Nuraini untuk melakukan verifikasi hasil hitungan software. Artinya output software tersebut tidak ditelan mentah-mentah.

    Mengenai STAAD PRO? Udah lama sekali saya tidak berhubungan dengan tool yang satu itu, jadi secara detail saya tidak bisa memberi tahu step-step di mana saja yang perlu dicek.

    Saya hanya bisa memberi sedikit tips secara general bagaimana membandingkan (verifikasi) hitungan software dengan hitungan manual, dalam hal desain balok beton menerus.

    1. Pastikan analisis strukturnya sudah tepat. Gaya-gaya dalam yang dihasilkan cukup logis. Untuk balok menerus, momen lentur dan gaya gesernya bisa dibandingkan secara kasar dengan koefisien-koefisien yang ada di SNI/ACI. Misalnya untuk momen negatif pada tumpuan di bentang tengah, nilainya sekitar $$ \dfrac{w_ul_n^2}{11} $$. Kalau perlu gunakan dua software untuk membandingkan gaya-gaya dalamnya saja, terutama momen lentur dan gaya geser.

    2. Properti-properti materialnya, meliputi fc’, fy, $$ \epsilon_c $$, dll. Kita harus tau bagaimana software tersebut mengambil asumsi-asumsi. Pastikan juga code atau standard apa yang digunakan oleh si software dalam melakukan desain.

    3. Perhatikan dimensi-dimensi yang digunakan, terutama tebal selimut.

    4. Kalau gaya dalamnya nggak ada masalah, properti material, dimensi, dan asumsi lain juga sudah oke. Harusnya hasil desainnya tidak akan jauh berbeda.

    5. Samakan persepsi. Jangan sampai si software melakukan desain penampang di daerah tumpuan, kita malah bandingkan dengan desain manual di tengah bentang (lapangan).

    6. Kadang ada nilai yang dikeluarkan oleh software yang tidak jelas atau tidak familiar buat kita. Usahakan cari tau apa fungsi nilai tersebut, dari mana diperoleh. Bisa saja nilai atau variabel itu adalah variabel yang penting. Atau, justru bisa jadi tidak penting.

    7. Berdasarkan pengalaman, perbedaan hasil dari hitungan manual dengan software adalah :
    a. dalam hal penggunaan FAKTOR REDUKSI dan FAKTOR BEBAN (KOMBINASI) yang berbeda.
    b. tinggi d.

    Mohon maaf jika kurang membantu. Semoga sukses dengan STAAD-PRO nya.[]

  • kusnadi said,

    bagaimana menghitung penampang balok beton bertulang yang terdiri dari dua lapis, lapis diatas beton kuat, lapis bawah beton lemah. maksudnya adalah kuat lenturnya dan kuat gesernya, trms .

  • ganti franceska said,

    pak, mana lebih irit kolom ato bulat dan kotak? kekuatannya ?

  • admin said,

    Kolom bulat secara struktural lebih stabil karena kekakuannya merata ke segala arah, kekangannya juga lebih bagus jika menggunakan sengkang spiral, dan faktor reduksi φ juga lebih besar daripada kolom kotak. Intinya dengan luas penampang dan rasio tulangan yang sama, kekuatan aksial tekan kolom bulat LEBIH BESAR daripada kolom kotak.
    Tapi untuk kekuatan lenturnya (dalam hal memikul momen akibat beban lateral), kolom kotak masih lebih kuat.

    Mana yang lebih murah? Yang jelas pembuatan bekisting (framework) utnuk kolom bulat sedikit lebih rumit daripada kolom kotak. Otomatis biaya pelaksanaan lebih tinggi.

    CMIIW.[]

  • indra said,

    boleh ga pak bangunan bertingkat 3 struktur penulangannya di modofikasi.. untuk mendapatkan nilai ekonomis…. misalkan… diameter tulangan pada tiap lantai.. diper kecil… dan bagai mana cara perhitungan beban-beban yang bekerja… moho bantuan nya…terima kasih

  • admin said,

    @indra.
    Memodifikasi tulangan boleh saja, asalkan persyaratan struktur tetap harus dipenuhi, yaitu kekuatan dan batas lendutan.

    Memperkecil diameter tulangan boleh, tapi jumlahnya harus ditambah. :) Ujung-ujungnya ya sama saja.

    Kalau mau konstruksi yang ekonomis biasanya tidak hanya ditentukan oleh banyaknya besi tulangan. Tipe struktur juga biasanya menentukan. Misalnya struktur konvensional (balok-kolom) versus tipe flat slab (tanpa balok). Untuk bangunan tertentu, flat slab bisa jadi lebih murah. Walaupun volume betonnya lebih banyak (karena pelatnya lebih tebal). Tapi dari segi volume bekisting dan proses pengerjaan relatif lebih cepat daripada sistem balok-kolom.

    Penggunaan precast juga kadang menguntungkan. Walaupun material relatif lebih mahal, tapi waktu pengerjaannya sangat cepat. Otomatis bisa menghemat biaya upah pekerja.

    Jadi, intinya untuk struktur yang ekonomis tidak hanya ditentukan oleh volume materialnya, tapi juga metode konstruksinya.

    Tapi… (ada tapinya). Untuk konstruksi skala menengah ke bawah, memang hampir selalu material yang menentukan biaya konstruksi.

    Oiya, untuk pembebanan, bangunan 3 lantai untuk apa ya? Kalau itu rumah, beban hidupnya cukup 200 kg/m2. Kalau perkantoran atau sekolah, minimal 250 kg/m2. Kalau lapangan futsal, minimal 400 kg/m2. Tidak lama lagi kami akan menerbitkan CheatSheet versi pembebanan struktur. :)

    Tips: Dinding bata merah adalah partisi yang cukup berat. Jika diganti dengan yang lebih ringan (misalnya jenis beton aerasi), besi tulangan yang dibutuhkan juga bisa dikurangi.

    cmiiw[]

  • NUR' said,

    pa saya mua tanx..
    1). untuk nilai K175 dkonfersikan ke fc’ =…? apakah bnar 13,5343 Mpa.. dan lho dipakai 15 MPa bagaimana.??
    2). sayakn dah memperoleh prhitungan yaitu nilai pro (p) untuk As1, pro minimum = 0,0058, pro maks 0,0218.. dan nalai pro yg didapat adalah 0,080.. (0,00580,0218) dan untuk As2 pro minimum = 0,0058, pro maks 0,0218.. dan nalai pro yg didapat adalah 0,016.. (0,0058<0,0160<0,0218)??
    3). sayakn dah memperoleh prhitungan yaitu nilai pro (p) untuk As1, pro minimum = 0,0058, pro maks 0,0218.. dan nalai pro yg didapat adalah 0,080.. (0,00580,0218) dan untuk As2 pro minimum = 0,0058, pro maks 0,0218.. dan nalai pro yg didapat adalah 0,0009.. (0,0058>0,0009<0,0218)??
    syaratkan : (pro min< pro <pro max)
    maf pa yg datas ad yg salah.. (coment 6 dan 7)

  • NUR' said,

    duh maf nilainx ni ga bs drubah dari coment 8 …(0,0058>0,0800>0,0218)

  • sas said,

    kalau besi tulangannya terdiri dari dua lapis, bagai mana penyelesaiannya:
    +—————-+
    | |
    | |
    | |
    | |
    | |
    | x x |
    | x x x |
    +—————-+

    x adalah posisi tulangan

  • sas said,

    kalau besi tulangannya terdiri dari dua lapis, bagai mana penyelesaiannya:
    +—————+
    | —————-|
    | —————-|
    | —————-|
    | —————-|
    | —————-|
    | x ———- x |
    | x — x — x |
    +—————+

    x adalah posisi tulangan

  • indra said,

    Pak gimana caranya menghitung ukuran minimum besi beton yang digunakan????

  • engineerholic said,

    gan.. thx bgt ya atas artikel2.. sebagai wujud terima kasihku ini ada bingkisan kecil, semoga bermanfaat

    http://www.4shared.com/file/LxGXEFxY/PETA_GEMPA_INDONESIA_2010.html

  • debi said,

    untuk

    Icr = Ico + Agc.yc^2 + n. As. ys^2 —–> Ico = ??

  • cuyaxs said,

    kalau tabel lendutan atau defleksi nya ada ….?

  • ichsan fauzi said,

    SALAM KENAL Pak…
    Saya saat ini sedang membangun rumah. Tapi ada terjadi human error.
    Yaitu pada pemasangan tiang kaso untuk balok gantung dan lantai dak, jaraknya agak besar, sekitar 70 cm. Jadi ketika pengecoran dilakukan tiang kaso bengkok, karna tdk bisa menahan beban cor basah. Sehingga terjadi lendutan pada salah satu balok gantung. sekitar 10cm ditengah-tengah balok. Yg jadi permasalahannya adalah, apakah aman saya utk meneruskan bangunan tsb? kalau tdk, apakah dng memasang kontruksi baja dibawah lendutan sdh menjadi aman? dan memakai baja WF atau WH ukuran berapa yg bisa membantu balok yg lendut tsb. dan bagaimana pola pemasangannya
    NB:
    * Lendutan terjadi pada saat basah.
    * Di lantai dak yg lendut akan dipasang dinding
    * Dimensi balok setelah dicor 25 x 45cm (cicin 20x40cm)
    * Menggunakan besi ulir 16mm 4 batang, kromo besi polos 19mm 2 batang atas bawah, besi extra 4 batang 14mm ulir, cicin 5mm jarak 10cm
    Mohon pencerahanya, karna saya benar2 mengharapkan penjelasan bapak. TERIMAKASIH sebelumnya

  • admin said,

    pak Ichsan, apakah lendutan juga terjadi pada permukaan atas beton? Perkiraan saya, lendutan terjadi pada saat cor basah, artinya permukaan di atas lantai tetap datar. Yang kedua, apakah besi tulangannya ikut melendut? Perkiraan saya, kalau memang melendutnya itu akibat kaso yg tidak kuat menahan cor basah, harusnya tulangannya ngga melendut, tetap terpasang di posisinya.
    Kalau memang seperti itu yg terjadi, bapak cukup membobok saja bagian bawah balok yg melendut, kalo memang bapak terganggu dengan bentuk itu. Secara struktural balok itu masih kuat (selama tulangan masih pada posisinya)

    Kalau tulangannya ikut melendut ke bawah, dan permukaan atas lantai tetap datar, itu juga masih kuat, artinya bapak memperoleh balok yg ukurannya 10cm lebih tinggi pada bagian tengah bentang. Secara struktural itu juga masih kuat.

    Tapi, kalau lendutan itu diikuti oleh lendutan di permukaan lantai, artinya permukaan atas lantai juga melendut, bapak tentu memerlukan tambahan plesteran/finising agar lantai menjadi rata. Tebal finising 10cm itu cukup berat dan bisa saja balok bapak tidak kuat. Kalau memang butuh perkuatan, balok baja bisa digunakan. Bapak bisa menggunakan profil UNP yang ditempelkan ke sisi samping balok beton, dan disambung ke balok beton dengan anchor bolts + epoxy tiap jarak 30-50 cm.

  • SONY said,

    LAM KENAL
    Saya masih awam sekali tentang ini
    tp saya mau tanya .” apa yg dimaksud dengan dan apa fungsi atau akibat dari tegangan (normal, geser, dsb), momen (inersia, lentur, dsb) dan gaya ???
    terima kasih

  • hedid said,

    Salam kenal pak, saya mau tanya penyambungan pelat strip tambahan ke balok betonnya bagaimana metodenya pak? Trus bisa ngak pelat bajanya dibuat selebar sisi bawah beton, sehingga plat stripnya dipakai yang lebih tebal, gimana cara perhitungannya pak? terima kasih banyak pak, mohon sarannya…

  • rachman said,

    Salam kenal bos

    mo tanya sy sedang buat mushola di kampung ada rencana utk ngedak, dengan lebar bangunan 6 m & panjang 16 m. dengan lebar antara kolom 6 meter gimana baiknya utk baloknya tanpa ada kolom ditengahnya, maaf sy awam dgn masalah ini. terima kasih bos

  • budi said,

    Wah trimakasih Gan, bener2 sangat membantu

  • Roma Teknik said,

    salam kenal pak,,,,,,,,,,,,,, saya minta bahan ajar tentang lendutan, untuk referensi tugas,,, mkasi sblmnya….

  • hery said,

    saya mau tanya, untuk balok gantung tepian void bentang 7m, besi diameter berapa yg hrs saya pakai, dan isi berapa, berapa ukuran balok gantungnya
    cataan; tebal lantai 15cm
    kolom struktur saya sudah menggunakan besi 12 isi 8
    dimensi kolom 15cm x 40cm

  • anto said,

    Pak rencana saya mau bikin mushola ukr 8×8 mtr tanpa tiang penyangga.berapa ukrn kolom dan balok dan ukr slopnya. Mohon pencerahan trims.

  • danu arishandy wijaya said,

    aku lagi galau…cari kan aku pacar donk

  • admin said,

    balok atau kolom?

    :D

Add A Comment