Di pembahasan bagian 1 dan bagian 3 yang kita bicarakan hanya tentang tulangan bawah saja. Tentu saja dalam hal ini momen lenturnya adalah momen positif di mana serat bawah mengalami tarik, serat atas mengalami tekan. Kenyataannya, balok itu hampir mustahil tidak punya tulangan atas. Penggunaan tulangan atas atau tulangan tekan itu ada alasannya. Beberapa di antaranya adalah:
- Meningkatkan daktilitas penampang.
- Mengurangi defleksi jangka panjang. Insya Allah dibahas di bagian ke-5
- Mempermudah pelaksanaan di lapangan. Coba bayangkan jika tidak ada tulangan tekan. Bagaimana mau masang sengkangnya?! :D
Lantas, bagaimana hitung-hitungannya?
Kita akan menghitung kapasitas momen lentur sebuah penampang balok dengan memperhitungkan tulangan atas (tekan).
Prosedur

- Diketahui : dimensi balok
, tebal selimut
, luas tulangan bawah
, dan luas tulangan atas
.
Dimana
Indeks t pada variabel luas tulangan menyatakan tension dan c menyatakan compression. - Hitung
- Tentukan
- Bagi
menjadi dua bagian.
untuk mengimbangi tulangan tekan
, dan
untuk mengimbani gaya tekan pada beton

tulangan tarik yang mengimbangi tulangan tekan

tulangan tarik yang mengimbangi tekan pada beton
- Asumsikan semua tulangan (atas dan bawah) mengalami leleh. Nanti kondisi ini harus dicek.
- Hitung kapasitas momen dari pasangan
dan
:
- Hitung tinggi blok tekan
- Hitung kapasitas momennya:
- Kapasitas momen totalnya adalah
Apakah Tulangan Tekan Benar-Benar Leleh?

Dari diagram regangan di atas, dapat dihitung berapa besar regangan pada tulangan bawah dan tulangan atas.
- Tentukan posisi sumbu netral
Nilaibisa dilihat di artikel bagian pertama.
- Dengan prinsip segitiga sebangun, dapat dihitung :
- Jika
, maka tulangan tarik mengalami leleh.
- Sementara untuk tulangan atas (tekan)
- Jika
, maka tulangan atas mengalami leleh.
Bagaimana jika tulangan tekan ternyata belum leleh?
Ada beberapa metode yang bisa dilakukan. Yang jelas konsep yang digunakan adalah kompatibilitas regangan dan kesetimbangan gaya tarik dan gaya tekan. Salah satu metoda alternatif yang akan kami berikan adalah metoda iterasi, yaitu melanjutkan prosedur di atas.
- Setelah mengetahui ternyata tulangan tekan tidak leleh, maka ulangi prosedur no #4 di atas.
- Hitung
- Hitung tinggi blok tekan
- Hitung
- Hitung lagi
- Ulangi langkah no.1 dengan menggunakan nilai
yang baru.
- Lakukan iterasi hingga diperoleh
yang konstan.
Sementara jika kita mau menggunakan metode lain, kita bisa menurunkan persamaan-persamaan keseimbangan gaya-gaya pada penampang, yaitu
,
sehingga akhirnya diperoleh persamaan kuadratik
Dari sini nilai bisa dihitung dong.
Dan akhirnya hitung kapasitas momen lenturnya,
Catatan penting
Di hitung-hitungan di atas tidak sedikit pun disinggung tentang SNI-Beton-2002. :)
Ya.. memang SNI-Beton-2002 tidak banyak mengatur tentang tulangan atas/tekan. Pada butir 10.3(4), SNI bilang gini:
Peningkatan kekuatan komponen struktur lentur boleh dilakukan dengan menambahkan pasangan tulangan tekan dan tulangan tarik secara bersamaan.
Trus… pada bagian ketentuan khusus perencanaan gempa, SNI-Beton-2002 butir 21.3(2(1)) dengan tegas menyatakan bahwa:
… tulangan atas dan bawah tidak boleh kurang dari yang ditentukan oleh Pers. (10-3), dan tidak boleh kurang dari
, dan rasio tulangan
tidak boleh melebihi 0.025. Sekurang-kurangnya harus ada dua batang tulangan atas dan dua batang tulangan bawah yang dipasang secara menerus.[]
next : kontrol lendutan dan retak balok
admin
Masalah tulangan tekan ini kalau pengalaman kami, sangat jarang diperhitungkan dalam perhitungan kekuatan. Selain kontribusinya memang tidak banyak, ada beberapa pertimbangan lain sewaktu memperhitungkan pengaruh tulangan tekan.
Salah satunya adalah kondisi leleh. Kondisi aktual (kenyataannya), sangat susah membuat tulangan tekan menjadi leleh. Walaupun dalam teori bisa. Kenapa susah leleh, alasannya:
1. Tulangan tidak terkekang dengan baik, baik itu oleh selimut beton maupun oleh sengkang.
2. Lendutan balok juga akan membuat tulangan ikut melendut, walaupun kecil tapi jika ada kombinasi antara gaya tekan yang besar dan lendutan, tentu akan muncul perbesaran momen dan tekuk. Jadi tulangan akan leleh justru karena tekuk “lokal”.
Kalaupun ingin meperhitungkan kontribusi tulangan tekan, paling aman memang mengambil asumsi tulangan tekan tidak leleh, fs < fy. Besarnya fs bisa dihitung dari regangan (linear) yang dialami tulangan tekan tersebut.
Nah.. jadi apa gunanya tulangan tekan? Sekali lagi, menurut pengalaman kami, tulangan tekan PALING BANYAK diperhitungkan untuk kontribusi inersia penampang balok, dalam hal pengecekan lendutan. Biasanya kalau lendutannya belum memenuhi syarat, daripada memperbesar ukuran balok, bisa dicoba dulu dengan menambah (atau memperhitungkan) tulangan tekan.
cmiiw[]
FFK
Numpang tanya juragan. Sebelumnya saya terima kasih atas bagi-bagi ilmunya, namun ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan.
Dalam mencari nilai a kenapa hasil yg saya hitung dengan metode iterasi dan metode persamaan kuadratik berbeda?
Kemudian setelah saya lihat-lihat lg ternyata yang membuat nilainya berbeda adalah persamaan Ast1 = Asc*fsc/fy. Apabila variabel fy tersebut dihilangkan sehingga persamaan td menjadi Ast1 = Asc*fsc , maka nilai a yang diperoleh dari iterasi dan persamaan kuadratik akan sama.
Pertanyaan selanjutnya, kenapa penambahan tulangan desak bukannya menambah nilai Mn tp malah mengurangi nilai Mn? ini terjadi apabila saya menggunakan nilai a dari hasil persamaan kuadratik.
Mohon ditanggapi dan terima kasih sebelumnya..
admin
Terima kasih atas komentarnya.
Memang untuk yang metode iterasi ada sedikit “kejanggalan” waktu kami baca teorinya.
Menurut kami metode persamaan kuadratik yang lebih rasional. Untuk itu kami akan pelajari lagi tentang metode iterasi tersebut.
Mengenai pengaruh tulangan tekan (desak) terhadap Mn, persamaan di atas sekali lagi ada kekeliruan. Seharusnya menghitung Mn adalah hasil kopel antara gaya-gaya T, Cs, dan Cc terhadap garis netral penampang. Jadi, persamaan yang benar adalah
