Investigasi Struktur Gedung

Kira-kira 8 atau 9 tahun lalu, Jakarta pernah diguncang gempa yang cukup signifikan. Pusatnya memang jauh, tapi getarannya cukup merisaukan beberapa gedung tinggi di sana. Banyak kerusakan-kerusakan minor yang terjadi.

Waktu itu saya masih bekerja di sebuah konsultan struktur yang salah satu spesialisainya adalah perencanaan gedung tinggi. Kami pernah mendesain beberapa gedung tinggi (tower) di sebuah kompleks perkantoran di daerah Jakarta Selatan (Jl. TB Simatupang), dan gedung itu sudah dipakai selama kira-kira 10 tahun sebelum gempa itu terjadi.

Sesaat setelah gempa, pihak pemilik gedung segera memanggil kami untuk melakukan pemeriksaan. Soalnya, dari beberapa laporan tenant yang ada di sana, ada beberapa kerusakan yang terjadi, dan yang paling banyak terjadi adalah kerusakan finishing tembok dan kusen pintu jendela. Di sana ada 5 tower, dan perusahaan mengutus 3 orang untuk memeriksa kondisi struktur seluruh gedung itu, termasuk saya sendiri.

 

Di tengah perjalanan, kami melakukan briefing, dan membuat SOP (Standard Operating Procedures) singkat untuk pekerjaan ini. Beberapa di antaranya yang krusial untuk diperiksa adalah… sambungan balok kolom atau drop panel, dan bagian dasar kolom (paling bawah, di dekat pondasi, di lantai paling bawah). Itu sifatnya wajib. Selebihnya masukin catatan aja. Dan untuk mengecek sambungan balok kolom, caranya adalah dengan membuka plafond (ceiling), kemudian manjat (pake tangga) trus masuk ke atas ceiling dan lihat langsung kondisi daerah sambungan balok-kolom, atau drop panelnya (untuk sistem flat slab). Sementara pengecekan dasar kolom hampir ngga ada masalah karena area basement relatif lebih terbuka strukturnya.

560x360_Structural_investigation

Sesampainya di sana, kami menyebar. Dari 5 gedung itu, ada 4 gedung yang tingginya sekitar 12 – 18 lantai (kalo ga salah), dan ada 1 gedung yang di bawah 10 lantai.

Pemeriksaan struktur ternyata ngga selamanya berjalan mulus. Ada beberapa kendala, dan ada 2 masalah yang masih melekat di memori saya hingga saat ini.

Masalah pertama adalah sulitnya akses untuk membuka ceiling di area sambungan balok-kolom. Biasanya di kantor itu, di sekitar kolom kadang ada perangkat-perangkat kantor seperti rak, mesin fotokopi, printer, kubikal, dll. Belum lagi ada gedung yang ga punya tangga, jadi harus minjam tangga di gedung lain. Untungnya yang bagian ngangkat-ngangkat tangganya bukan saya, ada tenaga bantuan yang disedikan dari pihak gedung.

Masalah kedua, datang dari tenant itu sendiri. Tenant yang ada di sana banyak jenisnya, ada perusahaan kecil sampe skala besar. Ada di bidang sosial, perdagangan, industri, sampe pertambangan dan migas. Nah… orang-orang migas ini kebetulan bagian engineering (bukan civil engineering), dan mereka mengamati kami melakukan pekerjaan kami.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Sempat ada yang nyeletuk dan pengen ngajak “berantem”.

“Pak,.. yang rusak kan temboknya.. kok bapak malah naik ke atas? Emang hubunganya apa?”, kira-kira seperti itu pertanyaan mereka.

Akhirnya, kami nambah pekerjaan lagi… ngasih kuliah singkat. Open-mouthed smile 

Kami jelasin, apa itu komponen struktur dan apa itu komponen arsitektur pada sebuah gedung. Kalo komponen arsitektur rusak pengaruhnya apa, kalo komponen struktur rusak pengaruhnya apa. Kalo ada gempa, pengaruhnya ke masing-masing komponen seperti apa.

Dan di akhir “kuliah singkat” itu, kami kasih analogi dengan seorang dokter. Kalo kita ke dokter, mengeluh sakit kepala, sakit punggung, atau yang lain… yang diperiksa apa? Perut… dada… lidah… mata… dll. Yang sakit yang mana, yang diperiksa yang mana?? Aneh bukan? Tapi itu karena dokter lebih paham masalah anatomi, lebih paham hubungan antar organ-organ tubuh. Begitu pula dengan kami – structural engineer – yang sehari-hari ngulik tentang perilaku bangunan gedung.

Mereka akhirnya manggut-manggut, walaupun di raut wajah mereka, ada rasa ngga puas, mau nyari celah lagi, tapi keburu saya tutup dengan do’a akhir majelis ta’lim.. Open-mouthed smile Open-mouthed smile 

Subhanaka allaahumma wabihamdika, asyhadu an laa ilaaha illaa anta, astaghfiruka wa atuubu ilaika.

[]semoga bermanfaat[]

3 thoughts on “Investigasi Struktur Gedung

  1. muhammad tahir

    bismillah
    saya sudah kirim beberapa data rumah ke email bapak 2 hari yang lalu
    trima kasih

    Reply
  2. muhammad tahir

    bismillah
    kalau boleh bertanya, saya punya kasus mau tambah rumah berlantai 1, mau dinaikkan sampai lantai 5. dimana 4 lantai tambahan tersebut masing masing 2 lantai plat beton dan dua lantai kayu. ukuran bangunan 5×17. pondasi bangunan tanpa cakra ayam. tulang an besi lantai pertama rata besi 12. disebelah rumah tetangga juga mau menambah lantai dan sedang dalam pengerjaan. ada banyak masalah yang saya hadapi pertama berapa banyak tiang baru yang harus saya buat dengan pondasi cakar ayam. masalah kedua karena saya dan tetangga memakai bersama tiang diantara rumah kami. sementara untuk lantai dua dan seterusnya dia memakai separuh ukuran tiang dan dinding lantai pertama yang kami pakai bersama. selain itu tulang an besi yang dia pakai besi 10. bagaimana solusi untuk memperkuat bangunan saya. dan apakah daya tahan bangunan tetangga akan berpengaruh untuk bangunan saya. karena saya sudah mengingatkannya agar memperkuat struktur bangunannya tapi lebih mengikuti pendapat kebiasaan tukang batu yang mengerjakan rumahnya.
    terimakasih atas jawabannya

    Reply
    1. admin Post author

      Dari 1 lantai menjadi 5 lantai (2 lantai kayu) termasuk penambahan yang ekstrim.

      Apakah memang awalnya didesain untuk 5 lantai?

      Terus terang kami belum bisa bantu dengan informasi yang ada. Banyak sekali input data yang diperlukan, misalnya kondisi tanah di sana seperti apa, bangunan sudah berapa lama berdiri, gambar denahnya seperti apa, pondasi lama seperti apa, bangunan tetangga seperti apa, kondisi tiang sekarang seperti apa, dll.

      Belum lagi jika pondasinya masih turun atau sudah turun. Biasanya ciri2nya dinding mulai retak, kusen miring, keramik lantai lepas, dll. Dengan penambahan lantai, tentu pondasinya bakal bekerja lebih berat lagi.

      Lebarnya memang cuma 5 meter, memang masih jadi “makanan” tukang “kelas 1”. Mereka masih bisa pake feeling, tapi mereka ngga bakalan bisa kasih jaminan.

      Kalau memang serius, bisa hubungi kami via email iwal.islamuddin at gmail dot com.

      Karena masalah ini bukan masalah yang 30 menit kelar 🙂

      Salam

      Reply

Boleh komentar di sini