Interview With The Engineer

engineer interview

Bekerja di bidang konstruksi bisa dibilang unik, karena untuk bisa menempati posisi yang kita incar, perusahaan yang bersangkutan harus tau dulu sudah sejauh mana kita menguasai bidang yang kita inginkan, yaitu teknik sipil.

Di sini saya mau share, apa saja yang sering ditanyakan sewaktu interview alias wawancara kerja untuk posisi Civil or Structure Engineer.

Sebenarnya tiap-tiap perusahaan punya metode dan standar tersendiri dalam melakukan seleksi atau rekruitmen karyawan baru. Ada yang harus melewati beberapa tahap, malah ada yang cukup 1 tahap saja. Yang jelas ada satu tahap yang mutlak dilakukan, yaitu wawancara alias interview.

Khusus untuk pekerjaan engineering design, interview yang dilakukan harus bersifat teknis. Calon engineer akan ditanyai berbagai macam pertanyaan seputar analisis dan desain struktur. Berikut ini adalah beberapa contoh pertanyaan yang pernah saya alami sejak awal.

engineering-interviews-300x199

  1. Fresh Graduate. Sebagai fresh graduate, saya coba membidik sebuah perusahaan konsultan perencana struktur yang men-spesialisasikan diri di bidang perencanaan high rise building. Pertanyaan yang diajukan nggak jauh dari materi kuliah 😀 misalnya, prosedur desain balok bertulang, masalah pembebanan, kombinasi beban. Kemudian untuk struktur baja saya ditanya sedikit mengenai metode LRFD.  Alhamudlillah semua lancar. Kecuali ada 2 pertanyaan yang terus terang saya ngga bisa jawab waktu itu. Yang pertama tentang creep alias rangkak pada beton, dan yang kedua tentang desain kapasitas.
    Belakangan saya baru sadar bahwa dua poin di atas memang menjadi poin penting dalam melakukan desain beton bertulang, khususnya untuk bangunan yang didesain untuk menahan beban gempa.
    Interview ini bisa dibilang penting, karena setelah saya bekerja di sana, tidak sedikit yang mencoba masuk ke perusahaan itu tapi gagal di interview, bahkan yang sudah punya pengalaman sekalipun belum tentu bisa diterima. Jadi, perusahaan itu benar-benar melihat kualitas dan potensi.
  2. Setelah kurang lebih 5 tahun, saya coba untuk cari tantangan baru. Interview berikutnya, di sebuah perusahaan konsultan lagi. Kali ini saya tidak diwawancara lama-lama. Saya langsung diberi pekerjaan yang harus diselesaikan di rumah, dalam waktu 3 hari – mendesain struktur sebuah bangunan warehouse, mulai dari kolom, rafter, purlin, sampai bracing. Saya cuma dibekali gambar arsitektur dan sedikit data pembebanan, selebihnya saya harus asumsi sendiri sesuai code yang berlaku. Interview di sini juga menentukan saya bakal diterima atau tidak. Alhamdulillah, tidak ada masalah. Tapi, pekerjaannya akhirnya tidak saya ambil karena alasan lain 😀
  3. Tidak lama setelah itu, saya coba ke perusahaan developer yang cukup besar di Jakarta. Ngga ada interview khusus, saya cuma ditanyai proyek apa saja yang pernah dikerjakan, dan apa tugas saya di proyek tersebut. Di sini, interview yang dilakukan tidak begitu berpengaruh. Yang ngaruh adalah background saya (teknik sipil), pengalaman saya (di atas 3 tahun, entah sebagai konsultan, kontraktor atau apapun mereka ngga peduli), dan negosiasi gaji. Sayangnya, ngga ada kesepakatan di poin ketiga 😀
  4. Interview berikutnya di sebuah perusahaan EPC asing. Saya diinterview oleh orang India, dan waktu itu saya belum tau karakter orang India (hehehe..), jadi saya mencoba menjawab pertanyaannya dengan jurus “sok-tahu” dan jurus “kira-kira”. Pertanyaannya bersifat teknis, misalnya waktu ditanya tentang desain slab beton bertulang, saya ditanya berapa rasio tonase pembesiannya (berapa kg per m3 beton). Asli… saya waktu itu ngga tau, dan memberikan jawaban yang yaaa kira-kira segitulah. Alhasil, setelah interview tersebut saya nggak menerima kabar lagi. 😀 😀 😀
  5. Berikutnya, sebuah perusahaan EPC (Engineering Procurement Construction), untuk proyek pabrik semen (Cement Plant). Saya masih buta dengan proyek industri skala besar waktu itu. Interview yang dilakukan juga hanya sekedar nanya sudah pernah mengerjakan (mendesain) bangunan apa. Walaupun saya ngga punya pengalaman di bidang EPC, saya diterima, dan pekerjaan itu saya ambil. Jadi, di sini interviewnya ngga begitu ngaruh. Yang ngaruh adalah experience saya dianggap sudah cukup kenal banyak dengan dunia desain, dan salary yang ditawarkan juga ngga ada masalah. Akhirnya saya pindah, memulai tantangan baru.
  6. 6 bulan berselang, saya loncat lagi, ke perusahaan EPC lain. Kali ini tidak ada interview khusus tentang engineering. Experience saya di perusahaan sebelumnya sudah dianggap cukup. Dan saya langsung masuk ke tahap negosiasi salary. Walopun agak berat, tapi waktu itu terpaksa saya terima dengan alasan tertentu.
  7. Di sini saya habiskan sekitar 1.5 tahun sebelum mencoba pindah lagi. Interview yang pertama, dari sebuah perusahaan perkebunan asing, Filipina. Interviewnya langsung dengan project manager. Tidak ada yang menantang terutama dari segi teknis, karena yang dibutuhkan memang bukan design engineer. Interview di sini cukup penting, karena dari interview inilah mereka tau kalo experience dan skill saya nggak cocok dengan posisi yang mereka tawarkan. Dengan kata lain, saya ditolak :D.
  8. Nggak lama setelah itu, saya ikut lagi interview dengan sebuah perusahaan EPC (bisa dibilang masuk 5 besar di Indonesia). Ada 2 interview, salah satunya membahas masalah teknis. Saya ditanya tentang proyek apa saja yang pernah dikerjakan, dan diminta sedikit bercerita tentang proyek tersebut. Secara teknis, ngga ada masalah, tapi mereka agak ragu dengan “jam terbang” saya. Dari 7 tahun pengalaman, 5 tahun pertama saya habiskan di sektor building, dan hanya 2 tahun di sektor EPC (plant, oil & gas, atau mining). 5 tahun pertama saya nggak dianggap.. hiks 😀 Walopun demikian, hasil interview ternyata cukup berpengaruh, karena dari situ mereka berani memberi penawaran yang cukup tinggi. Tapi… posisi itu nggak saya ambil 🙂 Soalnya ada yang harus saya korbankan, dan itu susah. 😀
  9. Interview berikutnya, ini adalah satu-satunya interview jarak jauh yang pernah saya alami. Sebuah perusahaan asing, mempunyai basis di salah satu daerah di Sumatera. Interview-nya dilakukan dengan cara teleconference, saya berbicara di depan banyak orang melalui telepon. Kalo ngga salah ada 3 orang waktu itu. Salah satunya adalah dari pihak project management. Isi interviewnya menurut saya ngga penting… 😀 Sama dengan interview kebanyakan, saya hanya ditanya pernah mengerjakan proyek apa, kemudian sempat ditanya sudah pernah mengerjakan ini, itu, bla..bla..bla.. Kalo belum ,saya jawab belum. Kalo pernah, saya jawab sudah. 😀 Dan memang interview itu belum menentukan hasil, soalnya setelah itu saya dipanggil untuk interview berikutnya langsung di lokasi (site). Wah… saya langsung angkat tangan dan mundur dengan teratur. 😀
  10. Berikutnya, interview dengan salah satu perusahaan EPC lagi. Kali ini interviewnya berkualitas, karena saya langsung dikasih kasus sederhana, kalo nggak salah ada 2 soal yang harus saya selesaikan dalam waktu 30 menit. Yang pertama desain pipe-rack, yang kedua konsep perhitungan daya dukung tiang pancang. Saya semangat kalo yang kayak gini. Alhamdulillah, lancar. Berikutnya interview dengan HRD, membahas hal-hal non teknis, ngga penting kok. 😀 Dan… pekerjaan inilah yang saya jalani berikutnya. 🙂
  11. Hampir 2 tahun berselang, saya coba-coba lagi. Ada sebuah interview lagi, dari sebuah perusahaan besar… milik negara orang lain. 😀 Lagi-lagi interviewnya teknikal banget. Sangat dalam, dan sangat menentukan. Pertama-tama, saya disuruh mengurutkan (dari 1-5), mulai dari bidang teknik sipil yang paling saya kuasai. Akhirnya saya membuat list mulai dari Steel Structure di urutan pertama, Concrete Structure kedua, Foundation Design, Geotechnical, dan terakhir… Marine & Offshore yang paling tidak saya kuasai. Si interviewer fokus pada 3 teratas, dan saya dicecar berbagai macam pertanyaan yang termasuk kategori cukup susah. Misalnya, konsep dinamik analisis, kemudian pondasi untuk vibrating equipment, blast analysis. Sempat ditanyain juga tentang soil improvement.
    Intinya, dari semua interview yang pernah saya alami, inilah interview yang paling berkualitas… 😀 Lebih susah dari sidang skripsi/tugas akhir. Walopun hampir semuanya bisa saya jawab, tapi begitu digali lebih dalam, saya terpaksa mengibarkan bendera putih. Nah… bagaimana hasilnya? Tunggu aja ya… soalnya kejadiannya baru saja saya alami beberapa minggu lalu. 😀 😀 😀

architect-engineer-job-interview

Nah, dari paparan di atas, ada satu poin penting yang saya rasakan sangat berpengaruh.
Untuk wawancara yang sifatnya umum, misalnya dengan HRD, jujur itu perlu, lebay juga boleh, bohong dikit juga ga apa-apa, misalnya mau menutupi kekurangan. 😀 Kecuali kalo posisi yang diincar adalah level manajer, maka attitude anda menjadi sangat penting.

Untuk posisi engineer, jika anda mengikuti wawancara/interview yang bersifat teknis, maka HARAM hukumnya untuk berbohong dan sok tau, karena orang yang meng-interview anda jauh lebih tau daripada anda. Kalo ngga tau, jawab saja ngga tau. Kalo belum pernah, jawab saja belum pernah. Ngga perlu defensif, ngga perlu cari pembenaran. Karena yang kita hadapi adalah manusia setengah mesin, the engineer 😀 Dia bisa tau kapan kita benar-benar menguasai apa yang kita paparkan, dia juga bisa tau kapan kita ngeyel. 😀 😀 😀 Dan dia bisa mengukur sampai di mana kemampuan kita sebenarnya.

Jadi…. yang bersiap-siap menghadapi Interview With The Engineer, ngga ada salahnya buka-buka lagi dokumen, buku, atau segala macam referensi teknis yang berkaitan dengan proyek-proyek yang sudah pernah anda lakukan.

 

[semoga bermanfaat]

13 thoughts on “Interview With The Engineer

  1. m aswanto

    “Untuk wawancara yang sifatnya umum, misalnya dengan HRD, jujur itu perlu, lebay juga boleh, bohong dikit juga ga apa-apa, misalnya mau menutupi kekurangan.” hahaha…
    Diwawancara pemilik perusahaan/owner/taipan/big boss beda lagi ya mas kiatnya..,
    (apalagi sang pemilik bukan kategori the engineers bukan pula the HRD) dishare mas kalau ada pengalaman tersebut..

    Reply

Boleh komentar di sini