Dasar-Dasar Beton (3) Sampel Beton Untuk Pengujian

Posted by admin on 05-Jan-2010 under Struktur Beton | 27 Comments to Read

book1_21869_image002

Ada dua pengujian yang utama yang dilakuan terhadap beton, yaitu :

  1. SLUMP Test
    Slump Test bertujuan untuk menunjukkan Workability atau istilah bakunya kelecakan (seberapa lecak/encer/muddy) suatu adukan beton.
    Lihat Bagian 2
  2. COMPRESSION Test atau Tes Uji Tekan
    Tes Uji Tekan ini bertujuan untuk mengetahui berapa kekuatan yang bisa dicapai beton tersebut. Test Uji Tekan ini tentu saja dilakukan pada saat beton sudah mengeras.

Test tersebut harus selalu dilakukan dengan hati-hati. Test yang kurang memperhatikan prosedur yang baik dan benar dapat memberikan hasil yang tidak tepat.

SAMPLING
Langkah pertama adalah mengambil sampel atau contoh dari batch beton, misalnya dari truk beton atau truk ready-mix. Pengambilan sampel ini harus sesegera mungkin dilakukan begitu truk sudah sampai di lokasi proyek. Jadi, sampel diambil di lokasi, bukan di Batching Plant, yaitu tempat dimana truk ready mix mengambil dan mencampur bahan baku beton.

Sampel dapat diambil dalam dua cara:

  1. Untuk persetujuan boleh dipakai atau tidak, sampel diambil setelah 0.2 meter kubik beton sudah dituang (dicor) terlebih dahulu. Jadi, beton dituang dulu sebanyak 0.2 m kubik, kemudian diambil sampel. Jika oke, beton tersebut boleh dipakai. Jika tidak, tentu saja dikembalikan. :D
  2. Untuk pengecekan rutin: sampel diambil dari tiap tiga bagian muatan beton dalam truk.

perlengkapan

SLUMP TEST
Tujuannya adalah memastikan bahwa campuran beton tersebut tidak terlalu encer dan tidak terlalu keras. Slump yang diukur harus berada dalam range atau dalam batas toleransi dari yang ditargetkan.

Peralatan

  • Slump cone standar (diamter atas 100 mm, diameter bawah 200 mm, dan tinggi 300 mm)
  • Sekup kecil
  • Batang besi silinder (panjang 600 mm, diameter 16 mm)
  • Penggaris/mistar/ruler
  • Papan slump (ukuran 500×500 mm)

perlengkapan
Prosedur

  • Bersihkan cone. Basahi permukaannya dengan air, dan tempatkan di papan slump. Papan slump harus bersih, stabil (tidak mudah bergeser),tidak berdebu, dan tidak miring.
  • Ambil sampel beton
  • step a1
    Berdiri pada pijakan (kuping) yang ada pada cone. Isi sepertiga bagian dari cone dengan sampel. Padatkan dengan cara rodding, yaitu menusuk-nusuk beton sebanyak 25 kali. Lakukan dari bagian terluar ke bagian tengah.
  • step a2
    Isi lagi hingga mencapai 2/3 bagian cone. Lakukan rodding 25 kali, tapi hanya sampai ke bagian atas lapisan pertama. Bukan ke dasar cone.
  • step a3
    Isi hingga penuh, lakukan lagi rodding 25 kali hingga ke bagian atas lapisan kedua.
  • step a4
    Ratakan bagian atas beton yang “meluap” dengan menggunakan batang besi. Bersikan papan slump di sekitar cone. Tekan pegangan cone ke bawah, dan lepaskan pijakan.
  • step a5
    Angkat pelan-pelan cone tersebut. Jangan sampai sampel bergerak/bergeser.
  • step a6
    Balikkan cone, tempatkan di samping sampel, dan letakkan batang besi di atas cone yang terbalik tersebut.
  • step a7
    Ukur slump beberapa titik, dan catat rata-ratanya.
  • step a8
    Jika sampelnya gagal atau berada di luar toleransi, maka harus diambil sampel lain, kemudian dilakukan slump test lagi. Jika masih gagal juga, maka beton tersebut boleh ditolak.

UJI KUAT TEKAN

Uji kuat tekan bertujuan untuk mengetahui kuat tekan dari beton yang sudah mengeras. Test ini dilakukan di laboratorium, dan tentu saja bukan di lokasi proyek (off-site). Yang bisa  dilakukan di lokasi (site) hanyalah membuat atau mencetak beton silinder untuk diuji. Kan, sampelnya ada di site. Tidak boleh membawa sampel ke laboratorium, kemudian masukkan ke cetakan silinder. Cetakan silinder harus disediakan di lokasi proyek.

Kekuatan beton dapat diukur dalam satuan MPa atau satuan lain misalnya kg/cm2. Kuat tekan ini menunjukkan mutu beton yang diukur pada umur beton 28 hari.

Peralatan Pembuatan Sampel

  • Tabung/silinder cetakan (diameter 100mm x 200mm H, atau diameter 150 mm x 300 mm H)
  • Sekup kecil.
  • Batang besi silinder (diameter 16 mm, panjang 600 mm)
  • Pelat baja sebagai dudukan

book1_21869_image024

Prosedur Pembuatan Sampel Silinder

  • Bersihkan cetakan silinder dan lumuri permukaan dalamnya dengan form oil, agar adukan beton tidak menempel di permukaan metal dari cetakan tersebut.
  • Ambil sampel adukan beton.
  • step b1
    Isi 1/2 dari isi cetakan dengan sampel dan lakukan pemadatan dengan cara rodding sebanyak 25 kali. Pemadatan juga dapat dilakukan di atas meja getar.
  • step b2
    Isi lagi cetakan silinder hingga sampel beton sedikit meluap. Lakukan rodding 25 kali sampai ke atas lapisan pertama.
  • step b3
    Ratakan beton yang meluap, dan bersihkan tumpahan-tumpahan beton yang menempel di sekitar cetakan.
  • step b4
    Beri label. Letakkan di tempat yang teduh dan kering dan biarkan beton setting sekurang-kurangnya selama 24 jam.
  • step b5
    Buka cetakan dan bawa beton silinder ke laboratorium untuk dilakukan uji kuat tekan.

Untuk detail Uji Tekan, sambil menunggu.. saya hubungi laboratorium dulu kalau begitu.

(bersambung…)

Semoga bermanfaat.[]

  • ekdw said,

    kalo papan slump nya terbuat dari papan yang permukaannya seng, bgmn?? bisa ndak??
    truss kl permukaan seng nya basah, bisa ndak?? apakah hal2 yg saya sebutkan dapat mempengaruhi keberhasilan slump test??

  • admin said,

    Permukaan logam (seng) tidak masalah.



    Permukaan yang basah tidak masalah, yang penting bukan genangan air.

  • yogi said,

    ada g perhitungan kekuatan bwt beton k.250, 300,350

  • maekal ginting said,

    trus hubungan antara kuat tekan dan kuat tarik belah beton apa ya gan!! tolong ya dibahas gan

  • admin said,

    hubungan antara kuat tarik beton dengan kuat tekan beton:
    Ada referensi yang menyebutkan bahwa kuat tarik langsung (principal tensile strenght) dari beton kurang lebih sekitar 0.33 √ fc’. Katanya itu berdasarkan SNI/ACI, tapi kami kebetulan belum pernah membaca langsung dari SNI maupun ACI tentang hal itu.
    Tetapi ada code/standard lain yang mengambil nilai 0.4 √ fc’ sebagai kuat tarik dari beton.

    Sementara untuk kuat tarik lentur, di SNI mengambil nilai 0.7 √ fc’, dan ada yang mengambil 0.6 √ fc’.

    Kuat tarik langsung adalah kekuatan beton jika ditarik secara langsung. Sementara kuat tarik lentur adalah kekuatan penampang beton yang seratnya mengalami tegangan tarik pada saat ada momen lentur.[]

  • ekdw said,

    mas gan,,minta tolong dong,,masukin tulisan tentang scc,,,

  • yudhi suplan said,

    pak mainta tolong diperbanyak lagi dong pa

  • Alfonsus said,

    aq mau nanya dong…
    1. Knp beton punya kuat tekan yang lebih besaar dari bahan lain?
    2. knp beton bertulang bisa tahan air dan api?
    3. knp beton memiliki usia layan yang lebih lama?
    Trims sebelumnya….

  • admin said,

    @Alfonsus

    1. Beton punya kuat tekan yang lebih besar? Menurut saya baja kuat tekannya jauh lebih besar.
    Beton yang banyak dikenal paling bisa menahan tegangan tekan hingga 60-70 MPa. Sementara baja paling sedikit bisa menahan hingga 240 MPa. :)

    Kalau saya punya kolom 20cmx20cm dari beton dan dari baja, tentu baja yang lebih kuat. Tapi masalahnya, saya belum pernah lihat kolom baja (solid) ukuran 20cmx20cm.. nggak kebayang ngangkatnya bagaimana. Tinggi 3 m saja beratnya sudah hampir 1 ton.

    Mungkin kalimat yang lebih tepat adalah, beton lebih EFEKTIF menahan tekan dibandingkan material lain. Kita adu saja kolom beton 30MPa versus baja 240MPa dengan ukuran 200×200 mm.

    Kuat tekan kolom beton = 0.85x30x200x200 = 1020 kN
    Kuat tekan kolom baja = 240x200x200 = 9600 kN

    Biar adil, luas penampang kolom baja kita kurangi, jadi bentuk kolomnya adalah kotak berongga. Setelah dicoba-coba, dengan tebal kotak 5.5 mm, maka luas penampang kolomnya adalah (200×200) – (189×189) = 4279 mm2.
    Kuat tekan kolom baja = 240×4279 = 1027 kN

    Okelah, bisa dikatakan bahwa kolom beton 200×200 setara dengan kolom kotak baja berongga 200×200 tebal 5.5 mm.

    Tapi ada faktor lain yang mempengaruhi kekuatan kolom, yaitu tinggi kolom. Kolom beton pada umumnya berbentuk pejal sehingga terlihat kompak (gemuk), sementara kolom baja dengan penampang yang tipis sehingga lebih langsing, lebih rentan mengalami tekuk, baik tekuk lokal maupun global.

    Jadi kolom beton lebih efektif? Kebetulan di Indonesia iya. Karena secara umum, biaya (material + upah) pembuatan struktur beton masih lebih murah daripada biaya konstruksi struktur baja. Selain itu masih banyak hal lain seperti lamanya pengerjaan, massa struktur (dalam hal gempa), dll.

    2. Kenapa beton tahan air? Karena ada pasta semennya. Pasta semen itu seperti perekat, awalnya dia cari/gel/pasta, kemudian melalui proses kimia dia mengering dan bersifat kedap air. Jika adukan semennya tercampur dengan baik, tidak ada udara yang terperangkap, semua kerikil (aggregat) dan pasir diselubungi oleh pasta semen, maka air tidak akan bisa menembus lapisan beton. Kecuali kalau ada retak. :)

    Kenapa tahan api? Itu adalah sifat turunan dari materialnya yang sebagian besar terbuat dari kerikil. Kerikil tahan api bukan? Semennya pun harus tahan api. Mudah terbakar (flammable) mungkin tidak, tapi lekatannya dengan kerikil bisa dipengaruhi oleh suhu yang sangat tinggi.

    Sifat hantar panas (konduktivitas termal) beton cukup rendah dibandingkan dengan baja tulangan. Artinya jika bagian bawah pelat lantai beton kita bakar, permukaan atasnya tidak akan cepat menerima panas dari bawah. Beton sendiri lebih tahan terhadap api daripada baja, makanya besi tulangan harus punya tebal selimut yang cukup sebagai pelindung jika terjadi kebakaran, terutama untuk selimut bawah balok atau pelat lantai.

    3. Usia layan beton lebih lama. Dibandingkan dengan baja? Itu relatif, baja juga bisa bertahan lama, tahan terhadap korosi, dll. Kayu? Rumah nenek saya di kampung adalah rumah panggung dari kayu, dan sampai sekarang masih utuh, kokoh, tidak banyak yang lapuk. Saya perkirakan usia rumah itu lebih dari 70 tahun.
    Justru beton punya sifat rangkak (biasanya dikombinasikan dengan susut) ditambah retak, yang menyebabkan lendutannya (khusus pada balok dan lantai) akan terus bertambah, walaupun bebannya tetap.
    Belum lagi dari kasus-kasus PERKUATAN yang banyak terjadi, sebagian besar didominasi oleh struktur beton. Jadi, menurut kami usia layan itu relatif. Kalau pengerjaannya benar dan sesuai ketentuan, tentu usia layan rencana bisa lebih lama.
    Tapi memang untuk ketahanan terhadap lingkungan, memang beton yang paling tahan.

    (panjang amat ya)

    cmiiw[]

  • ronaldy said,

    gan mao tanya nh,klo yg membuat campuran beton tkang dilapangan tanpa melalui proses perhitungan desain mix sebaiknya dalam perencanaan kita taksir mutu beton berapa ya?ada yg bilang K175 trus K225,klo dibuku nova teknik sipil K135, campuran Semen pasir kerikilnya 1:2:3

  • admin said,

    @Ronaldy,

    Kalau betonnya bukan beton struktural, misalnya hanya sebagai pengaku dinding, atau untuk struktur skala kecil, saya juga belum pernah lihat aturan tentang mutu beton minimum yang disyaratkan.

    TAPI, di SNI-Beton, mutu beton minimum yang boleh menggunakan peraturan tersebut adalah 17.5 MPa (kira-kira setara dengan K-210)

    Di SNI tentang Tata Cara Perhitungan Harga Satuan Pekerjaan Beton, diberikan komposisi-komposisi untuk tiap mutu beton mulai dari yang terkecil (K-100 sampai K-350).

    Untuk 1 m3 beton K-175 (fc 14.5 MPa), campurannya adalah:
    Semen : 326 kg
    Pasir : 760 kg
    Kerikil : 1029 kg
    Air : 215 liter (w/c = 0.66)
    Beton ini tidak boleh menggunakan SNI-Beton untuk pengecekan kekuatannya.

    Untuk 1 m3 beton K-225 (fc = 19.3 MPa), campurannya adalah:
    Semen : 371 kg
    Pasir : 698 kg
    Kerikil : 1047 kg
    Air : 215 liter (w/c = 0.58)
    Kalo beton ini boleh dicek kekuatannya menggunakan SNI-Beton.

    Kedua adukan di atas kalo dibulatkan rasionya semuanya mendekati rasio 1:2:3 bukan?

    Saya lagi nulis artikel tentang komposisi adukan beton ini. Mohon bersabar, mudah-mudahan bisa publish hari ini.[]

  • ronaldy said,

    ok juragan,trims

  • yanto said,

    bagaimana cara untuk menguji kekuatan beton??????

  • BIRU said,

    thanks

  • dik said,

    @admin: wah, kalo dilapangan susah juga ya kalo harus 326 kg..hahaha rata² aja deh. Mayan buat referensi..

  • Kurniawan said,

    Berapa persen Batas toleransi komposisi yang boleh ditambahkan atau dikurangi untuk 1 m3 beton K-225 untuk didapat (fc = 19.3 MPa), baek semen, agregat halus n kasar, air, dan admixture.. terimakasih…

  • Arwan said,

    bagaimana cara mengkonversi satuan berat agregat kedalam satuan volume ag=regat …
    Contoh
    – semen = 379 kg
    – Pasir = 679 kg
    – Agregat kasar = 1156 kg
    berapa volumenya apabila dikonversi ke dalam satuan M3
    – semen =……….m3
    -pasir =………..m3
    -Agregat Ksar =……m3

    trima kasih sebelumnya….

  • victor said,

    @Arwan: Anda dapat membagi berat aggregat tersebut dengan nilai berat jenisnya masing2.

    V=M/p,,dengan rumus tersebut maka didapatkan volumenya.

    Contoh: Vsemen= (379kg) / (3150kg/m3) = 0,1203 m3.

    semoga jawabannya dapat membantu.

  • rahma said,

    kalo dalam gambar terdapat notasi beton K-225/20 artinya apa? thx b4

  • admin said,

    Itu menyatakan mutu beton K-225, yaitu 225 kg/cm2
    Atau setara dengan 20 MPa.. 20 N/mm2, atau 20000 kN/m2

  • Harris said,

    Hanya saran : untuk pekerjaan dilapangan sangat sulit dengan menggunakan takaran berat spt diatas, lebih baik dimensi campuran berapa, misal 1:2:3 yang diambil dulu semennya (beratnya jelas) baru dikonversi ke aggregat yg lain, terus agregat yang lain dibuatkan kotak kayu yang bervolume tepat, untuk masing masing aggregatnya. (?)

  • irwan riswanda said,

    saya mau tanya, seandainya hasil test kubus beton K-300 adalah rata2nya 285 kg/cm2 ( umur 28 hari ), apa masih termasuk kategori K-300 ? tolong ya . terima kasih buanyak.

  • Putu Sukma Kurniawan said,

    Sangat membantu sekali artikelnya. Begini saya ingin bertanya kalau kita ingin membuat spesi dengan perbandingan 1 pc : 6 pasir, berapa sebaiknya air yang kita tambahkan? Atau ada ketentuan untuk spesi dengan perbandingan tertentu maka jumlah air yang harus ditambahkan seberapa banyak? Terimakasih banyak

  • Suadaya, ST said,

    bagaimana cara mengkonversi satuan berat agregat kedalam satuan volume ag=regat …
    Contoh
    – semen = 247 kg
    – Pasir = 869 kg
    – Agregat kasar = 999 kg
    berapa volumenya apabila dikonversi ke dalam satuan M3
    – semen =……….m3
    -pasir =………..m3
    -Agregat Ksar =……m3

    trima kasih sebelumnya….

  • maulana ibrahim said,

    pakai berat jenis sepertinya

  • adi said,

    Mohon bantuannya mas, saya telah melakukan uji tarik tak langsung/uji tarik belah memakai sampel silinder yang berukuran diameter 10 cm dan tinggi 20 cm, yang saya mau tanyakan, bagaimana cara mengkonversi menjadi nilai kuat tariknya dalam bentuk sampel standar yaitu dengan dimensi 15 cm dengan tinggi 30 cm ?

  • titiek susianah said,

    Minimal berapa benda uji yang harus disiapkan untuk pengetasan ? Dalam …..m3 harus ada….benda uji

Add A Comment