Apa Beda ASD dan LRFD?

loading...

Sering dengar pertanyaan ini? Sudah sering juga baca penjelasannya? Udah paham? Kalo sudah, alhamdulillah. Selesai. Ngga perlu kita lanjutkan lagi. Open-mouthed smile

Tapi kalo rekan-rekan terusin baca ini, mungkin belum begitu paham ya? Atau… sekedar penasaran aja, apa yang bakal kami tulis di sini? Open-mouthed smile 

Baiklah. Uraian di sini didasarkan sebatas pengalaman dan pengetahuan kami saja. Jadi, mohon maaf sebelumnya kalo masih belum sempurna jawabannya.

ASD vs ASD

Nah lho… di dalam code AISC (American Institue of Steel Construction), ternyata ada 2 macam ASD. Ada Allowable STRESS Design, dan ada Allowable STRENGTH Desain.

Continue reading

Senjata Rahasia Perencana Struktur

loading...

Ketika ada satu pihak yang membutuhkan jasa perencana struktur, tipikal pertanyaan awal yang sering diajukan adalah, “Bisa kerjain ini nggak?”, “Bisa hitung struktur ini ngga?”, “Bisa desain bangunan ini nggak?”

Trus, apa jawaban yang diberikan? Macam-macam. Ada yang tanpa basa-basi bilang, “Bisa… sini saya kerjakan”.

2016-08-16_091023

Continue reading

Investigasi Struktur Gedung

loading...

Kira-kira 8 atau 9 tahun lalu, Jakarta pernah diguncang gempa yang cukup signifikan. Pusatnya memang jauh, tapi getarannya cukup merisaukan beberapa gedung tinggi di sana. Banyak kerusakan-kerusakan minor yang terjadi.

Waktu itu saya masih bekerja di sebuah konsultan struktur yang salah satu spesialisainya adalah perencanaan gedung tinggi. Kami pernah mendesain beberapa gedung tinggi (tower) di sebuah kompleks perkantoran di daerah Jakarta Selatan (Jl. TB Simatupang), dan gedung itu sudah dipakai selama kira-kira 10 tahun sebelum gempa itu terjadi.

Sesaat setelah gempa, pihak pemilik gedung segera memanggil kami untuk melakukan pemeriksaan. Soalnya, dari beberapa laporan tenant yang ada di sana, ada beberapa kerusakan yang terjadi, dan yang paling banyak terjadi adalah kerusakan finishing tembok dan kusen pintu jendela. Di sana ada 5 tower, dan perusahaan mengutus 3 orang untuk memeriksa kondisi struktur seluruh gedung itu, termasuk saya sendiri.

Continue reading

Balok Transfer dan Kolom Transfer

loading...

Ada diskusi menarik di halaman facebook DTS, tentang struktur sebuah bangunan sederhana yang posisi kolomnya agak “ngga biasa” seperti gambar di bawah

image

Tentu saja konstruksi seperti itu kelihatan nggak biasa bagi sebagian besar orang, baik awam bahkan orang-orang konstruksi itu sendiri. Padahal, konstruksi semacam itu sangat banyak dan sangat sering ditemui. Smile 

Cuman… memang untuk struktur bangunan rendah (3 lantai atau kurang), memang sangat jarang ditemui kasus seperti ini. Soalnya, anggapan yang beredar luas di mayarakat adalah yang namanya kolom itu harus lurus segaris dari bawah sampai atas! Wow Open-mouthed smile

Seandainya memang harus seperti itu, berbahagialah kita para perencana struktur karena ngga perlu susah-susah menghitung konstruksi yang aneh-aneh. Open-mouthed smile Open-mouthed smile

Emang Kolom Boleh Nggak Segaris?

Pertanyaan ini saya jawab dengan : “sangat boleh”

Continue reading

Sekilas Tentang Sloof / Tie Beam

loading...

Sloof kadang juga disebut dengan Tie Beam, atau Grade Beam. Semua wujudnya sama, tapi fungsi utamanya aja yang beda-beda.

Sloof adalah salah satu elemen yang penting di sebuah struktur bangunan gedung maupun non-gedung. Sloof adalah balok yang berada di tanah, baik itu di dalam tanah, atau muncul di permukaan tanah, yang jelas ngga melayang di atas tanah. Kalo udah melayang sudah bukan sloof namanya.

Jadi, syarat wujud sloof itu adalah:

  • berada di tanah (makanya kadang disebut juga Grade Beam (Grade = tanah yang sudah diratakan dan dipadatkan)
  • menghubungkan antara satu pondasi dengan pondasi yang lain, atau
  • menghubungkan antara satu sloof dengan sloof yang lain

Sloof yang menghubungkan antara satu pondasi dengan pondasi yang lain itulah yang disebut Tie Beam (balok pengikat), karena fungsinya adalah untuk memberi ikatan antar pondasi.

image

Continue reading

Pondasi Tapak, Masalah Eksentrisitas 2 Arah

loading...

DTS sedang mengembangkan sebuah aplikasi mobile untuk Android Platform. Aplikasi itu adalah aplikasi perhitungan pondasi tapak. Tahapnya sih, untuk interface (tampilan depan) bisa dibilang sudah 90% rampung. Tapi untuk core-nya yang berisi modul-modul analisis dan perhitungan, masih 60%an.

Ada sedikit kendala pada perhitungan pondasi tapak yang memikul beban eksentris 2 arah, dengan ekstenrisitas yang besar, dalam hal ini lebih besar dari B/6 dan L/6. (B dan L masing-masing adalah ukuran footing atau tapaknya).

Sebelum masuk ke sana lebih jauh, kita review secara singkat saja kali ya.

Normalnya, pondasi itu menerima beban aksial yang cukup besar, katakanlah P, bekerja di titik berat pondasi.

image

Secara sederhana, kita bisa hitung tekanan di dasar pondasi:

q = \dfrac{P}{BL}

catatan: berat sendiri pondasi diabaikan dulu ya.

Tekanan q itu bekerja merata di seluruh area dasar pondasi. Aktualnya sih ngga gitu, tergantung tipe tanahnya, tapi ini kan teori, penyederhanaan, pemodelan.. Smile

Lupakan kondisi aktual, kita ke teori dulu.

Bagaimana jika ada momen? Atau, bagaimana jika ada eksentrisitas?

Misalnya, beban P itu kita geser menjauhi titik berat.

image

Continue reading

Tiap Bangunan Konstruksi Itu Berbeda

loading...

Kami pernah mendapat pertanyaan singkat, "Pak, kalo untuk balok bentangan 5 m, ukuran dan pembesiannya berapa ya?"

2015-09-28_003405

Waduh..! Ada yang bisa jawab ngga? Bukannya nggak bisa… tapi kalau mau dituliskan, jawabannya bisa dijadikan satu buku tersendiri. Jadi, daripada saya buang energi menghabiskan tenaga, saya lebih baik bertanya balik kepada si penanya.

Yang mau saya tanyain antara lain:

  • Bangunannya untuk apa? Rumah? Hotel? Gudang? Kantor?
  • Baloknya menerus atau tunggal? Kalo menerus, berapa jumlah bentang, dan posisi balok tersebut ada di mana?
  • Posisi terhadap pelat lantai ada di mana? Di tengah (balok T), di ujung (balok L), atau nggak ada pelat lantai (balok persegi)
  • Apakah ada dinding di atas balok tersebut?
  • Apakah ada beban khusus di atas balok/lantai tersebut? Misalnya genset?
  • Kasur Raksasa? Atau pohon kurma?
  • Berapa mutu beton yang diinginkan?
  • Baloknya termasuk balok induk atau bukan (balok anak)?
  • Kalau balok induk, apakah memikul gempa atau tidak?
  • Apa lagi ya??… Nanti kalo kurang data saya tanya lagi deh.

Hehehehe… ribet kan? Daripada si penanya repot-repot menjawab, mending kirim aja gambar rencananya ke ahli struktur atau sejenisnya (yang jelas bisa ngitung struktur) Selesai perkara, tinggal duduk manis tunggu laporan dan hasilnya.

Pesan moral:

"Setiap bangunan konstruksi punya karakteristik masing-masing, sehingga tidak dapat digeneralisasi antara satu bangunan dengan bangunan yang lain, KECUALI jika bangunan tersebut memiliki BANYAK kemiripan sifat/karakteristik dengan yang bangunan lain"

Misalnya ada dua model struktur yang serupa, jumlah lantainya sama, bentang dan tinggi kolomnya sama, beban-beban permanennya sama, dan berada pada satu wilayah yang sama, katakanlah sama-sama di Jakarta, kalo mau spesifik lagi anggap saja bangunan itu adalah ruko.. hehe. Ternyata…ukuran balok dan kolomnya bisa beda, karena setelah diselidiki, bangunan yang satu berdiri di atas tanah yang termasuk kategori "tanah lunak" sementara yang lainnya di atas "tanah sedang".

Samain aja, gan.. ambil yang terbesar, trus digeneralisasi

Yaaa.. kalo seperti itu sih nggak masalah, proses desain bisa hemat waktu. Trik beberapa perencana struktur adalah seperti itu, untuk desain awal (preliminary) dihantam dengan ukuran yang besar-besar (yang masih masuk akal tentu saja). Saat desain itu direview oleh klien, perencana bisa punya waktu untuk melakukan perhitungan lebih detail sekaligus melakukan optimalisasi sehingga lebih ekonomis.

Kalo hitung balok pake rumus praktis yang L/10 sampai L/14 itu bisa nggak?

Bisa, tapi itu buat asumsi awal saja, untuk mempercepat perhitungan. Bukan buat desain akhir. Jadi, kalo panjang bentangnya 5 m, tinggi balok bisa kita coba dari 400 mm sampai 500 mm. Tinggal mencari lebarnya, kebutuhan tulangannya, dan mengecek lendutannya. Dan untuk itu kita harus tau berapa bebannya, bagaimana layoutnya, dll.. kembali ke pertanyaan di atas lah pokoknya. Nggak jarang dimensi struktur berbenturan dengan desain arsitek maupun planning dari M/E (Mekanikal & Elektrikal), sehingga harus disesuaikan lagi. Yang penting, selama syarat kekuatan dan kekakuan struktur terpenuhi, insya Allah perencana struktur bisa tidur dengan nyenyak.

Gan, untuk balok 5 m tadi, kalo saya pake ukuran 250 x 450, tulangannya 4D16 atas bawah.. kira-kira kuat nggak?

Sering sekali kami menerima pertanyaan yang mengandung kata "kira-kira". Kira-kira kuat nggak ya? Kalo mendapat pertanyaan seperti itu, ada dua jawaban: satu jawaban usil, satu lagi jawaban diplomatis.

Kalo jawaban usilnya adalah, "Dicoba dulu aja, kalo ambruk berarti nggak kuat.."

Tapi… kalo mau agak diplomatis, jawab aja seperti ini, "Selama tahanan strukturnya lebih besar daripada gaya dalam ultimate yang terjadi, struktur itu akan kuat".

Nah, kalo jawaban seperti ini, yang bertanya tentu akan ikut pusing. Mungkin karena males menghitung. Atau mungkin pusing karena nggak ada waktu buat menghitung. Atau pusing karena nggak tau cara ngitungnya bagaimana.

Sebenarnya ngitung itu gampang… yang susah adalah tanggung jawabnya. Sebagai seorang engineer, dengan data yang super minim, seberapa besar keberanian anda untuk memikul tanggung jawab atas kalkulasi yang anda berikan Smile

Solusinya gimana? Banyak. Salah satunya yang sering saya pakai. Kalau ada data yang kurang, saya akan membuat beberapa asumsi. Semakin minim datanya, semakin banyak asumsi yang akan kita buat. Setelah selesai analisis, dan hasilnya keluar, tinggal dikasih catatan… kalau ada salah satu kondisi aktual yang ngga sesuai dengan asumsi yang telah diambil, maka hasil analisis itu bukan tanggung jawab kita lagi. Selesai perkara. Open-mouthed smile

Nah… jadi tugas kita selanjutnya… tinggal bermain dengan asumsi-asumsi. Insya Allah dibahas di lain kesempatan.

[]semoga.bermanfaat[]

Rangkak Beton? Beton Bisa Merangkak??

loading...

Itu pertanyaan yang muncul di kepala saya begitu pertama kali mendengar istilah Rangkak Beton. Gimana caranya?? Open-mouthed smile Lagian, kenapa istilahnya rangkak?? Kayak bayi aja merangkak? Hehe

Baiklah… saya coba kasih tau rahasianya. Istilah itu diterjemahkan mentah-mentah dari istilah bahasa Inggris, creep. Menurut pengertian secara etimologi – saya copy-paste saja dari internet:

creep

krēp/

verb

1. move slowly and carefully, especially in order to avoid being heard or noticed.

Atau, kalo diterjemahkan ke bahasa pribumi… bergerak secara perlahan dan hati-hati, dengan tujuan biar ngga kedengaran atau ketahuan.

Kata kuncinya, bergerak secara perlahan, dan ngga ketahuan (terdeteksi).

Nah… fenomena ini yang terjadi pada beton… beton bisa “bergerak” dan nyaris ngga bisa diamati pergerakan itu. Soalnya terjadinya sangat lama dan sangat kecil. Sangat lama itu artinya dalam hitungan bulan bahkan tahun.

Beda dengan lendutan elastis (seketika) yang bisa diamati pada saat beton diberi beban. Saat itu juga kita bisa mengukur berapa lendutan, atau perpendekan yang dialami oleh beton. Tapi pada fenomena creep, ngga seperti itu.

Nah, karena di bahasa pribumi kita ngga ada padanan kata yang paling cocok untuk fenomena seperti itu, maka dipakelah terjemahan mentah-mentah dari istilah creep.. yaitu rangkak.

image

Seperti Apa Beton Merangkak?

Continue reading