Pakai Mutu Beton Berapa?

loading...

Mutu beton adalah salah satu parameter penting pada struktur beton. Istilah “mutu beton” lebih mengarah kepada kuat tekan beton. Menurut standar yang berlaku sekarang (SNI), mutu beton dinyatakan dalam mutu f’c, satuannya MPa. Sementara di lapangan masih banyak juga yang menggunakan mutu beton versi lama (PBI’71) yaitu mutu K, satuannya kg/cm2.

Yang membedakan hanyalah benda ujinya. Jika benda ujinya silinder, maka pakai mutu f’c, jika benda ujinya kubus maka pakai mutu K. Muncul pertanyaan,

saya merencanakan bangunan menggunakan SNI (peraturan terbaru), bolehkah saya menggunakan mutu K?

Jawabannya tentu tidak, karena semua formula yang ada di SNI adalah formula untuk mutu f’c (MPa). Contoh, untuk menghitung modulus elastisitas beton, salah satu formulanya adalah 4700 \sqrt{f`c} .

Jadi, kalo begitu, saya harus uji silinder nantinya?

Nah, ini… Masalah uji beton, boleh silinder, boleh kubus. Kalau silinder, tentu langsung diambil hasilnya. Tapi kalo uji kubus, hasilnya harus dikonversi lagi ke mutu f’c. Faktor konversi yang praktis adalah:

Mutu f’c = Mutu K x 0.083

Artikel lebih jelas tentang mutu beton bisa dibaca di sini.

Jadi, kesimpulannya, di dalam perencanaan (perhitungan) sesuai SNI, mutu beton yang digunakan adalah mutu beton f’c.

Tapi, sewaktu dituangkan ke dalam gambar, baik itu gambar rencana maupun gambar konstruksi, boleh ditambahkan informasi mutu K yang sesuai dengan mutu f’c yang direncanakan.

Pakai Mutu Beton Berapa

Pertanyaan berikutnya,

Saya mau menrencanakan bangunan gedung, pakai f’c berapa? Kalau gedungnya 4 lantai, f’c berapa? Kalau basement f’c berapa? Jembatan? Jalan? dll?

Nah, setiap ada masalah teknis, sebaiknya kita balikkan ke peraturan dan pedoman yang berlaku, baru dari situ kita melangkah lebih luas, apakah itu ke textbook, ke arsip proyek terdahulu, pendapat ahli, dll. Intinya, rujukan pertama kita adalah code & standard.

Mari kita grebek satu per satu.

Continue reading

Belajar Ilmu Teknik Sipil, Harus Siapin Apa Aja?

loading...

Ini pertanyaan yang paling sering kami terima di halaman fanpage fb Open-mouthed smile. Ada 3 tipikal pertanyaan yang paling sering ditanyakan:

(1) Peralatan yang disiapkan selama kuliah di teknik sipil

(2) Spesifikasi laptop/komputer,

(3) Harus menguasai pelajaran apa

Mari kita gerayangi satu-per-satu!

Continue reading

Apa Sih EPC Itu?

loading...

Kita awali dulu dengan kepanjangannya, EPC adalah singkatan dari istilah Engineering-Procurement-Construction.

Kalo dilihat dari istilah, EPC itu tidak lain adalah tahapan dalam suatu proyek konstruksi. Engineering adalah tahap desain perencanaan, Procurement adalah tahap pengadaan barang dan jasa, dan Construction adalah tahap pelaksanaan konstruksi.

image

Ada yang menarik di sini, yaitu tahap Procurement jarang ditemukan di dalam proyek biasa. Kalo proyek biasa, kita hanya mengenal tahap Perencanaan (Desain) dan tahap Pelaksanaan (Konstruksi). Lalu? Kenapa harus ada tahap Procurement? Jawabannya sederhana, karena proyeknya bukan proyek biasa.

Yup. Sistem EPC memang dipake di hampir sebagian besar proyek konstruksi yang “tidak biasa”, misalnya pada Industri Migas, Pembangkit Tenaga Listrik & Energi, Pertambangan, dan jenis industri berat lainnya. Sementara proyek yang kita anggap sebagai proyek biasa yaitu berbagai jenis bangunan gedung dan industri skala kecil ngga perlu menggunakan sistem EPC, malah bisa bikin susah.

Continue reading

Menghitung Momen Inersia Penampang Bersusun

loading...

Ngga jarang kita temui penempang struktur baja yang terdiri dari lebih dari satu penampang tunggal, misalnya, double siku (2L), double channel (2U), bahkan ada yang sampai 4 siku.

Penampang bersusun ini kadang dianalisis sebagai satu penampang utuh, bukan penampang yang berdiri sendiri. Sehingga, dalam analisis maupun desainnya, parameter penampangnya pun harus parameter gabungan.

Misalnya, luas penampangnya adalah jumlah dari seluruh luas penampang yang ada dalam penampang bersusun tersebut. Tentu ngga masalah bukan? Tapi, parameter lain seperti momen inersia tentu ngga bisa dijumlahin begitu saja.

Masih ingat artikel yang satu ini? Nah, dasar-dasar perhitungan momen inersia sudah pernah kami bahas berabad-abad yang lalu. Sekarang mari kita coba pada kasus yang sering ditemui di kehidupan nyata (baca: proyek)

Continue reading

Apa Beda ASD dan LRFD?

loading...

Sering dengar pertanyaan ini? Sudah sering juga baca penjelasannya? Udah paham? Kalo sudah, alhamdulillah. Selesai. Ngga perlu kita lanjutkan lagi. Open-mouthed smile

Tapi kalo rekan-rekan terusin baca ini, mungkin belum begitu paham ya? Atau… sekedar penasaran aja, apa yang bakal kami tulis di sini? Open-mouthed smile 

Baiklah. Uraian di sini didasarkan sebatas pengalaman dan pengetahuan kami saja. Jadi, mohon maaf sebelumnya kalo masih belum sempurna jawabannya.

ASD vs ASD

Nah lho… di dalam code AISC (American Institue of Steel Construction), ternyata ada 2 macam ASD. Ada Allowable STRESS Design, dan ada Allowable STRENGTH Desain.

Continue reading

Senjata Rahasia Perencana Struktur

loading...

Ketika ada satu pihak yang membutuhkan jasa perencana struktur, tipikal pertanyaan awal yang sering diajukan adalah, “Bisa kerjain ini nggak?”, “Bisa hitung struktur ini ngga?”, “Bisa desain bangunan ini nggak?”

Trus, apa jawaban yang diberikan? Macam-macam. Ada yang tanpa basa-basi bilang, “Bisa… sini saya kerjakan”.

2016-08-16_091023

Continue reading

Investigasi Struktur Gedung

loading...

Kira-kira 8 atau 9 tahun lalu, Jakarta pernah diguncang gempa yang cukup signifikan. Pusatnya memang jauh, tapi getarannya cukup merisaukan beberapa gedung tinggi di sana. Banyak kerusakan-kerusakan minor yang terjadi.

Waktu itu saya masih bekerja di sebuah konsultan struktur yang salah satu spesialisainya adalah perencanaan gedung tinggi. Kami pernah mendesain beberapa gedung tinggi (tower) di sebuah kompleks perkantoran di daerah Jakarta Selatan (Jl. TB Simatupang), dan gedung itu sudah dipakai selama kira-kira 10 tahun sebelum gempa itu terjadi.

Sesaat setelah gempa, pihak pemilik gedung segera memanggil kami untuk melakukan pemeriksaan. Soalnya, dari beberapa laporan tenant yang ada di sana, ada beberapa kerusakan yang terjadi, dan yang paling banyak terjadi adalah kerusakan finishing tembok dan kusen pintu jendela. Di sana ada 5 tower, dan perusahaan mengutus 3 orang untuk memeriksa kondisi struktur seluruh gedung itu, termasuk saya sendiri.

Continue reading

Balok Transfer dan Kolom Transfer

loading...

Ada diskusi menarik di halaman facebook DTS, tentang struktur sebuah bangunan sederhana yang posisi kolomnya agak “ngga biasa” seperti gambar di bawah

image

Tentu saja konstruksi seperti itu kelihatan nggak biasa bagi sebagian besar orang, baik awam bahkan orang-orang konstruksi itu sendiri. Padahal, konstruksi semacam itu sangat banyak dan sangat sering ditemui. Smile 

Cuman… memang untuk struktur bangunan rendah (3 lantai atau kurang), memang sangat jarang ditemui kasus seperti ini. Soalnya, anggapan yang beredar luas di mayarakat adalah yang namanya kolom itu harus lurus segaris dari bawah sampai atas! Wow Open-mouthed smile

Seandainya memang harus seperti itu, berbahagialah kita para perencana struktur karena ngga perlu susah-susah menghitung konstruksi yang aneh-aneh. Open-mouthed smile Open-mouthed smile

Emang Kolom Boleh Nggak Segaris?

Pertanyaan ini saya jawab dengan : “sangat boleh”

Continue reading